.
Tampilkan postingan dengan label Coret Moret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coret Moret. Tampilkan semua postingan

Renungan dalam Kesendirian

Oleh: Tito Erland S

Sendiri. Kesendirian. Saat dimana hanya ada engkau dan keheningan. Saat bijak untuk berpikir. Saat dimana engkau bisa merenung mendalam, merenung dengan aroma kebebasan.

Bebas. Manusia dikutuk dengan kebebasannya, begitu kata Sartre. Kebebasan untuk berpikir, kebebasan untuk berkehendak, karena manusia adalah ĂȘtre-pour-soi, mampu menentukan esensinya sendiri.

Kesendirian dan kebebasan. Dua kata yang seolah dapat melebur menjadi satu, menjadi keidentikan. Dalam kesendirian terdapat kebebasan. Engkau dapat bebas bertanya tentang segala sesuatu, tanpa harus takut pada daya magis hegemoni, tanpa harus takut terkena tongkat bambu represi pemikiran. Apapun bebas kau lontarkan, tanpa perlu takut, karena kau berdialog dengan dirimu sendiri, dengan kebijakanmu sendiri.

Engkau bebas mempertanyakan yang kau yakini selama ini. Mungkin saja salah. Mungkin saja jika ada hal yang kau perjuangkan itu adalah suatu kesia-siaan. Mungkin saja jika kau mencita-citakan revolusi, itu hanyalah revolusi kekanak-kanakan.

Bertanyalah. Mengapa mesti takut. Kau tidak akan dipersalahkan siapapun. Karena kau sendiri, tak ada yang lain disekitarmu. Bertanyalah. Bertanyalah. Karena jika yang kau yakini adalah benar, kau tak perlu takut untuk mempertanyakannya, sebab kebenaran tetaplah kebenaran walau dihujami berjuta keraguan.

Seni dan Sastra

Oleh: Tito Erland S

i suatu malam, saya mengikuti suatu diskusi. Tak disengaja, karena kedatangan saya lebih karena panggilan seorang teman. Setelah di ikuti, ternyata cukup menarik. Temanya tentang sastra dan membahas seorang pengarang.

“Seni adalah untuk keberpihakan”, kata salah satu peserta disukusi. Seni di sini tentu merujuk pula pada sastra.

Pada titik tertentu saya sepakat, pikir saya.

Dia melanjutkan.

“Seni harus di angkat dari realitas sosial”.

Apakah harus seperti itu, pikiran saya mulai memberontak. Lalu bagaimana seandainya saya mau membuat cerita kalau saya bisa terbang? Tidakah itu karya seni juga.

Dia tak mendengar pikiran saya dan terus melanjutkan.

“Seni tak mengapa mengangkat kehidupan privat, semisal cinta, tapi tak pantas di publikan, karena itu masalah privat bukan perkara publik”

Ah, saya mau membantah, tapi nanti saja, masih bingung merangkai kata yang tepat.

Akhirnya peserta lain menanggapi.

“Jadi persolannya adalah industrialisasi terhadap karya yang mengangkat kehidupan publik?”

Yang di debat pun menjawab.

“Bukan tapi persolan privat yang di publikan”.

Diskusi berlanjut. Teman yang satu itu masih tetap dalam pendiriannya, dan saya masih tetap dalam keberdiaman. Diskusi pun melayang pada suatu cerita bahwa seni yang mengangkat kehidupan pribadi ternyata dapat mempengaruhi perilaku. Diceritakan ada penelitian yang menyebutkan, sebagian pelaku bunuh diri mendengarkan lagu putus cinta atau kesedihan sebelum melakukan aksinya. Ada beberapa peserta lain yang menanggapi komentar, dan bola diskusi pun semakin bergulir melindas sub tema kecil lainnya yang terkait. Akhirnya saya pun ikut nimbrung di tengah perbincangan.

“Bagi saya seni adalah kebebasan. Tak harus satu. Tak harus seni itu untuk keberpihakan. Seni itu bebas”. Mungkin terdengar sederhana, tapi itu yang saya yakini.

Saya melanjutkan menanggapi perihal seni yang mempengaruhi perilaku.

“Tak selamanya manusia ditentukan oleh struktur. Manusia mempunyai nalar yang dapat mencerna makna yang terkandung dalam seni. Tidak dapat disimpulkan deterministik seperti itu, bahwa sebagian seni “menentukan” pengaruh buruk pada perilaku. Manusia dapat berpikir dan memilah-milah tindakannya termasuk menikmati dan memaknai suatu karya seni.”

Diskusi berlanjut. Sampai pada akhirnya tak ada suatu kesimpulan karena tiap peserta mempunyai keunikan cara pikir sendiri. Sekitar pukul 00.30 kami membubarkan diri.

Cinta

Oleh: Tito Erland S

Kita jatuh cinta, itu biasa saja…

(“Jatuh Cinta itu Biasa Saja”,

Efek Rumah Kaca)

Hati telah jatuh pada sosok idaman. Begitu menggebu-gebu rasanya. Seakan ada namanya pada setiap nafas yang terhembus. Siang malam terlewat tanpa melewati bayangnya, berusaha mencari celah di lubuknya untuk kemudian memenuhinya. Pancaran wajahnya telah menguasai diri, membuat seakan mampu melakukan segala sesuatu untuk menampakan bukti cinta.

Begitu mungkin rasa jatuh cinta. Penuh gelora, seakan ada api membakar jiwa, pil yang menerbangkan khayal, serta tak luput kehadiran sinar yang membutakan mata. Jatuh cinta terasa begitu indah, tak heran sebagian berharap ketika dirinya mengalami hal demikian akan abadi selamanya, layaknya edelewis yang tak mudah digapai namun tak pernah layu.

Hari-hari terasa begitu indah, menjadi milik berdua, saat sepasang hati insan sudah bertemu. Hari terlewati dalam posisi bercinta. Eluhan nafas, sentuhan lembut, tatapan mesra, kata manis, gurauan penghibur, dan sejuta representasi cinta terwujud dari tempat terdalam lubuk hati.

Semua berjalan layaknya sudah sempurna atau memang demikian adanya, sudah sempurna. Namun akankah kesemuanya mampu melewati ujian waktu, berjalan beriringan selamanya? Mampu mengatasi perbedaan dan membawanya dalam ranah keabadian?

Tak selalu. Perceraian, putus cinta, adalah realitas yang kerap kali ditampakan dalam infotainment, terkomodifikasi menjadi hiper realitas dalam karya estetis tayangan sinetron, bahkan terwujud dalam reality show yang terkadang lebih tepat disebut hyper reality show.

Tak jauh, di sekitar kita atau mungkin kita sendiri pernah mengalami itu. Perceraian maupun putus cinta membuat manusia mengalami keterpisahan. Cinta yang terbangun menjadi hancur berkeping-keping, bahkan tak tersisa. Bagi sebagian, putus cinta maupun perceraian justru wujud dari rasa cinta mendalam, suatu “kearifan” yang sampai saat ini belum saya mengerti.

Mengertinya saya, bahwa keterpisahan hubungan cinta salah satunya diakibatkan kedua insan yang tak mau memahami. Kecilnya permasalahan bisa menjadi besar dengan ego yang ditinggikan. Kejenuhan dan jatuh hati pada yang lainnya juga menjadi penyebab retaknya suatu relasi cinta. Maka wajar ketika Fromm mengatakan “pengalaman jatuh cinta memang sangat mempesonakan dan terasa sangat mendalam, namun makin lama perasaan ini makin dangkal hingga akhirnya berubah menjadi keinginan untuk kembali mendapatkan cinta yang baru, dengan ilusi bahwa cinta yang baru akan berbeda dengan cinta yang sebelumnya”.

Saya pun teringat perkataan seorang teman, bahwa makin lama cinta akan memudar. Teman lain berkata, bahwa setelah menikah cinta semakin menyurut, bahkan dapat hilang, yang tersisa menjadi perekat adalah keberadaan anak. Benarkah? Bisa jadi, namun tak bisa digeneralisir, karena manusia bukan benda yang dapat disamaratakan.

Kenyataan demikian momok bagi sebagian, untuk itu manusia perlu berada pada keadaan tetap berada dalam cinta (standing in love) yang dapat menjadi solusi atas sensasi menggebu-gebu dari falling in love. Standing in love manjadi penting mengatasi sifat kepudaran falling in love. Untuk menjadi demikian maka perlu ada aktifitas saling memberi dan menerima, menghargai, dan yang tak kalah penting adalah tanggung jawab. Kita tak “baik” begitu saja masuk kehidupan seorang manusia, membuainya, lalu meninggalkannya karena mengalami kejenuhan atau lainnya. Ada tanggung jawab dalam cinta yang jika dilaksanakan akan mempertahankan keutuhannya.

Dalam kehidupan nyata saya tahu salah satu contohnya , salah seorang juara dalam urusan standing in love, dialah kekasih saya. Di dadanya cinta itu di simpan rapat, dipertahankan semampu mungkin meskipun aral melintang menghalangi jalan kami. Dia masih dapat berdiri tegak ketika saya hampir terjatuh oleh terpaaan angin badai. Darinya saya belajar, bahwa jika seorang insan harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya, termasuk bertanggung jawab telah memasuki kehidupan seseorang dan “membuat“ cinta tumbuh dalam hati seseorang itu. Ah, jika saja ada kontes standing in love, saya akan mendaftarkan kekasih saya sebagai kandidatnya.

Referensi:

Erich Fromm, The Art of Love (Gaya Seni Bercinta), Pradipta Publishing.

Intrik

Intrik

Oleh: Tito Erland S

Ibarat Scar City, itulah kekuasaan. Menjadi sesuatu yang langka ketika tak dapat diraih semua. Untuk itu perlu perjuangan. Jelas, peraihnya hanya sedikit. Dengan demikian ada semacam kesepakatan sosial di dalamnya, bahwa harus ada yang terkomando, terkoordinasi, atau bahkan tersubordinasi. Kata lainnya ada penguasa dan ada yang dikuasai, ada “ si menang” dan ada “si kalah”.

Tampak menarik sekaligus dapat memuakan ketika ada drama perebutan, pembesaran dan pertahanan. Banyak motif bermunculan dalam rangka ketiganya, motif materi, kepentingan khalayak, atau sekedar gila sensasi karena kekuasaan bagi sebagian orang begitu menyenangkan.

Dalam sesi pertama saja –perebutan- sudah banyak hal yang tak sedap dipandang dan syahdu didengar. Sebut saja contohnya intrik politik dan kampanye hitam. Tak melulu yang demikian terjadi di level makro, pada tingkatan mikro pun kadang terwujud.

Hal demikian terjadi di kampus tetangga saya. Dari cerita teman, saya mendengar, di sana terjadi intrik dan kampanye hitam. Hal demikian terjadi dalam arena perebutan kekuasaan untuk menjadi pemimpin mahasiswa. Intrik terjadi layaknya perang dingin. Teknologi muktahir digunakan untuk melakukan semacam penekanan psikologis pada lawan. Sungguh “canggih”, pada tingkatan kampus sudah seperti itu. Kampanye hitam berbeda lagi modusnya, lewat selebaran yang menjelekan lawan dengan menghembuskan isu bahwa sang lawan mempunyai pemikiran yang nyeleneh.

Intrik dalam politik terjadi karena salah satu kaitannya dengan paradigma sang pelaku. Sang pengintrik dalam dunia perpolitikan bisa jadi mempunyai paradigma bahwa politik dan moralitas adalah dua hal yang terpisah, dengan demikian tak masalah etis atau tidak, yang penting adalah kemenangan. Padahal dalam budaya politik yang sehat, seharusnya cara tersebut tak layak, karena bagaimanapun juga demokrasi mempunyai aturan main dan politik mempunyai etika. Sungguh disayangkan, karena kultur politik yang diharapkan terbangun lebih baik, dicederai dengan hal seperti itu.

Intrik dalam politik sepertinya sudah biasa terjadi, meskipun tak dapat dibilang “benar”, apalagi ditingkatan kampus, hal yang demikian sepertinya menjadi sesuatu yang tak perlu.

Pun demikian dengan kampanye hitam. Tak pantas dipentaskan di arena politik. Tek elok jika kekuasaan dimenangkan dengan jalan menghembuskan isu negatif (apalagi yang berbau SARA dan ideologi) pada pihak lawan.

Pendidikan politik lebih tepat diketengahkan. Pendidikan politik dalam konteks ini yang saya maksudkan adalah memberikan kesadaran pada khalayak tentang fakta dari kepribadian dan track record calon pemimpin. Jadi bukan isu tak bertanggung jawab yang ditebarkan, tapi fakta kebobrokan calon pemimpin dari hasil “penelanjangan”. Hal demikian menjadi tepat karena tentu khalayak tak ingin punya pemimpin yang tak pantas.

Pada akhirnya saya melihat penegasan realitas, bahwa politik seringkali diwarnai dengan penyikutan. Sungguh disayangkan pada tingkatan mahasiswa saja sudah seperti itu, apalagi nanti saat sudah menjadi pemimpin di masyarakat?

Lips Service

Oleh: Tito Erland S

“Saya ini ahlinya”. Ah kata-kata itu begitu manis terdengar. Ingin menunjukan kualifasi diri pada dunia bahwa dia orang yang tepat untuk dipilih. Pengakuan semacam jaminan masalah teratasi dengan keberadaan dirinya. Nasib sedang mujur baginya, terpilihlah dia menjadi pemimpin nomor satu di kota yang bagi sebagian dianggap nomor satu.

Kini alam sedang mengujinya, seolah ingin membuktikan ucapannya. Hujan datang, mengguyur kota itu. Banjir pun melanda. Tak terdengar lagi ucapan percaya diri “saya ini ahlinya”. Ucapannya terbukti tak terbukti. Hanya jadi pemanis kampanye, miskin realisasi. Rakyat menderita, di dera banjir langganan. Sungguh ironis, rakyat bukan hanya berlangganan koran tapi juga berlangganan banjir. Padahal hujan kali ini bukan siklus lima tahunan, tapi tetap saja. Padahal pula, sudah cukup waktu dia memerintah, tapi tak teratasi juga.

Sudah biasa, namun bukan berarti kewajaran, kampanye hanya semacam bagi-bagi bibir manis bagi yang mau dikecup. Sebagian bahkan bagi-bagi uang. Setelah terpilih? Itu tadi, miskin realisasi. Semua jadi seakan mudah terlupakan, mungkin karena rakyat yang pelupa, media pembuat lupa, atau kebijakan yang meniupkan virus lupa. Tapi mungkin juga si pembagi bibir manis itulah yang lupa atau seolah lupa.

Begitulah politik, istilahnya hanya lips service. Dengan dibantu banyak uang, koneksi, dan pandai menggunakan lips service, maka jalan menjadi pemimpin semakin mulus. Tentu tak semua, tapi mungkin hanya sedikit yang tidak.

Kekuasaan memang manis, menarik banyak semut petualang kepadanya. Tengok saja, sudah macam-macam tingkah polahnya. Ada yang tadinya mengaku aktivis tapi kemudian menyerah untuk mengabdi pada sistem bobrok. Ada pula yang haus citra bersih, tapi tak berbuat sesuatu yang kongkrit bagi rakyat, alasannya belum diberi tampuk kekuasaan. Sungguh klise, karena berjuang untuk rakyat tak perlu menunggu kursi nomor satu.

Tak heran banyak yang muak dengan politik. Tak urus, karena tak ada signifikansinya dalam kehidupan, mungkin begitu pikir sebagian orang.

Begitulah politik, penuh warna-warni. Dan saya sendiri mulai jenuh dengan warna-warni itu, untuk itu saya sementara menjadi putih saja. Terserah bagaimana dengan anda.

Selera

Oleh: Tito Erland S

Pernahkah kita melihat fenomena hysteria para gadis berteriak saat ada peluncuran buku puisi atau sastra atau mungkin saat pembacaannya? Mungkin sebagian pernah, tapi saya rasa sangat langka. Bandingkan dengan pertanyaan ini, pernahkah kita melihat hysteria para gadis berteriak saat ada launching album band terkenal atau mungkin saat mereka manggung? Jawabannya, hal itu sudah sering tersuguhkan dalam tayangan live di televisi.

Namun intinya tentu lebih dalam dari sekedar penggambaran sederhana yang saya suguhkan di atas. Kesemuanya adalah tentang apresiasi. Jika tak keberatan, mari kita bandingkan antara jumlah pengunjung sebuah konser musik dengan bincang-bincang membahas buku puisi atau sastra. Bandingkan pula antara betapa seringnya tayangan musik di televisi dan jika mungkin ada dengan tayangan pembacaan puisi. Lalu bandingkan kembali waktu yang ditempuh para sastrawan agar buku yang mereka luncurkan sebelum terkenal menjadi diterima masyarakat dengan band yang baru membuat telur album pertama tapi langsung terkenal. Oh, masih ada bandingkan lagi antara musisi yang (maaf) tak terlalu tampan namun digila-gilai wanita dengan penulis yang tak terlalu tampan yang tak digila-gilai wanita.

Kontras. Itu jawabnya. Tapi di sini bukan untuk menyalahkan selera masyarakat, karena selera adalah hak masing-masing. Tidak juga menyalahkan musisi atau penulis sastra. Saya sendiri penggemar keduanya. Namun yang saya soroti adalah permasalahan industri budaya yang (mungkin) secara tak sadar terdukung oleh sistem pendidikan.

Begini, saya kembali bertanya, pernahkah waktu sekolah kita diajari sastra? Atau diberi pekerjaan rumah agar membaca buku sastra? Seingat saya, sewaktu kecil saya hanya disuruh mengarang cerita, tapi tak terlalu dibahas mendalam. Selebihnya saya hanya diajari tata bahasa Indonesia sampai SMA. Pasca pekerjaan mengarang itu, tak ada lagi yang secara langsung berhubungan dengan sastra, pelajaran bahasa Indonesia lebih cenderung menjadi hapalan yang harus hapal agar mampu tersenyum bangga saat selesai mengerjakan ujian. Mungkin ada kajian teoritiknya, semisal tentang majas, tapi hal itu tak terbahas mendalam, tak diberi penjelasan bagaimana cara menggunakannya dalam penulisan sastra. Hanya diberi penjelasan bahwa (semisal) ada salah satu majas yang bunyinya “ayah ke kantor naik kijang”. Itu saja, sehingga murid kemudian hanya menghapalnya. Saya sendiri baru sadar kalau majas-majas itu ternyata dapat digunakan dalam penulisan sastra.

Menurut hemat saya, hal itu banyak sedikit mempengaruhi selera anak didik. Anak didik lebih terbiasa dengan melihat acara musik yang sering mucul di layar kaca dibanding dengan membaca novel yang tak dibiasakan oleh sistem pendidikan. Namun itu zaman saya SD sampai SMA dulu, entah sekarang.

Kekontrasan semakin dipertegas, dengan pembentukan industri budaya yang dimasifkan lewat layar kaca. Semakin tergiringlah masyarakat pada industri budaya yang tersuguhkan karena lebih mudah di dapat, dibandingkan dengan novel yang jika ingin menikmatinya harus mengeluarkan kocek (atau mungkin pinjam).

Walau begitu yang jelas saya hanya ingin menggambarkan fenomena ini, tak ingin menggiring selera, karena bagi saya jika anda tak menyukai salah satunya, itu tak jadi masalah. Mengutip kata salah seorang teman, “saya cuma punya gelisah tak reda dengan realitas keseharian”

Mind Your Own Business!!!

Oleh: Tito Erland S
Sepatah kata pun tak terucap untuk sebuah perlawanan, ketika bau mulut busuk mencampuri eksistensi pribadi. Tak ingin berperang karena tak ada kalkulasi keuntungan yang masuk akal, doktrin luhur Sun Tzu terikuti olehku. Berawal dari rumah makan, saat meminta lebih, tentu dengan kesanggupan membayar. Saat itulah pemilik mulut busuk hadir mengacau. Dia bukan pemilik rumah makan, bukan pula petugas jaga, hanya pengunjung yang tak dikenal. Dia mencampuri urusan ku dengan sang petugas jaga. Mengatakan bahwa bisnis rumah makan akan merugi jika semua pengunjung meminta lebih. Ha? Dia pikir dia siapa? Dia bukan pemilik rumah makan itu, jadi itu bukan urusannya. Lagi pula sang petugas jaga pun tak protes sedikitpun. Kenapa dia kemudian yang merasa berkewajiban untuk mengkalkulasikan untung rugi? Tingkah polahnya tak berhenti. Saat sang petugas jaga menyidukan nasi untukku, dia kembali ikut campur. Jangan terlalu banyak, katanya, nanti tak habis, sayang. Uh, darah ini mendidih mendengarnya. Memangnya dia tahu apa? Memangnya ini perut siapa? Perutku atau perutnya? Siapa yang lebih tahu dan lagi kenapa ia merasa berkewajiban untuk mencampuri urusan aku dengan sang petugas jaga? Bukan, dia bukan siapa-siapa, dia hanya pengunjung, yang tak ada kaitan dalam keuntungan atau kerugian bisnis rumah makan itu. Lalu kenapa dia ikut campur? Entahlah, mungkin sudah tabiatnya. Mungkin ia merasa rasionalitasnya lah yang terbenar sehingga semua harus sesuai dengannya, meskipun itu bukan urusannya. Tapi sekali lagi kubiarkan saja, tak ada kalkulasi keuntungan yang masuk akal jika berperang. Akhirnya dia pergi, meninggalkan aku dengan sejuta kegondokan melihat tingkah polahnya yang senang ikut campur. Makan pun tak senikmat biasanya. Selera menjadi terkikis dengan kejadian itu. Kataku dalam hati, mind your own business!!!

Kembang dan Kumbang

Kembang dan KumbangOleh: Tito Erland S

Bagi. Diartikan bukan sebagai untuk. Mendekati makna sebagai tanda dalam matematika, namun jauh lebih dalam dari itu dikontekskan pada ranah sosial, khusus lagi perjalanan hidup dua insan. Dalam ranah itu bagi mendapat imbuhan “ber”.

Metafora terangkai penggambar perjalan kisah itu. Alkisah rajutan terjalin antara kembang dan kumbang. Suatu saat kepakan sayap kumbang menghantarkannya pada kembang. Saat ia akan meminum madu dari kembang, kembang menutup mahkotanya.

“Aku tidak ingin sedang berbagi madu denganmu”.

Kumbang terkejut dan kemudian marah pada kembang. Namun rupanya kembang punya alasan.

“Ini adalah madu ku. Dan kau tak berhak marah jika ku tak membaginya denganmu”

Kumbang terheran dengan semua itu. Apa kasih tak berarti berbagi?, pikirnya.

Kumbang lalu teringat cerita kembang tentang dua insan lain. Dua insan itu terlibat kisah yang tak habis pikir baginya. Mereka melakukan semacam traktat sebelum memasuki bahtera kehidupan bersama. Isinya tak jauh dari kesepakatan agar materi tak jatuh ke tangan yang satu jikalau harus menemui gunting pemisah jodoh. Kumbang kembali berpikir mengingat cerita itu, apakah tak ada milik bersama? Apakah yang ada hanya milik pribadi? Apakah kata berbagi menjadi hilang dengan keegoisan individu?

Menurut pak jenggot, sang biang keonaran, sejarah manusia bergerak karena adanya sistem kepemilikan pribadi. Hal tersebut perlahan menghilangkan konsep kesukarelaan dalam berbagi. Kemudian menjadi bermasalah ketika termonopoli sementara yang lain tak berkesempatan memiliki. Namun ada tesis yang mengatakan hal itu tak terjadi pada hubungan dua insan. Di dalamnya masih ada keluhuran berbagi. Dus, semua itu terlindas oleh roda zaman, ketika moderenitas memutarbalikan kesemuanya, tesis pun tak lagi benar secara absolut. Ilmu hitung-menghitung menjadi warna dalam hubungan dua insan. Kepemilikan bersama menjadi semakin absurd. Jangankan itu istilah berbagi pun menyempit.

Akhirnya kasih tak lagi seindah kisah yang dirangkai Gibran. “Kasih adalah berbagi hati bukan materi”. Hal itu yang terpancar jelas dari wajah sang kembang dan membuat kumbang terlena dalam haru biru.

Mungkin kasih hanya urusan hati, bukan materi, jadi yang perlu dibagi hanya hati saja. Ah, tapi layakah itu?