.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Topeng

Oleh: Tito Erland S

Cerita I:

Topeng mungkin bukan hanya sekedar benda, tapi merupakan simbol. Topeng mungkin bukan hanya sekedar sarana permainan bocah-bocah, layaknya topeng spiderman yang terkadang terlihat di pakai mereka. Bukan hanya itu, mungkin, topeng adalah penutup ketidaksempurnaan.

Manusia memang tidak ada yang sempurna, no body perfect, meskipun ia adalah mahluk yang paling sempurna. Selalu saja ada “kecacatan” dalam dirinya, keborokan yang telah menyatu dalam kehidupannya. Kecacatan dan keborokan disini diartikan sebagai berbeda (kalau tidak mau dikatakan menyimpang) dengan konsep kebenaran versi khalayak, kebenaran dalam balutan paradigma modern. Itu mengapa banyak kalangan menilai manusia tak lepas dari dosa.

Ketidaksempurnaan itu yang membuat sebagian membalut wajahnya dengan topeng, atau mungkin lebih tepat membalut jiwanya dengan topeng, sekedar menampakan sosok sempurna pada dirinya. Dalam hal ini, hidup menjadi semacam panggung sandiwara, sebuah kepura-puraan.

Namaku adalah Santi. Umurku 22 tahun. Belakangan aku resah pada realitas yang terjadi di sekitarku. Sudah lama sebetulnya ada pangkal permasalahan ini, namun baru belakangan ini kusadari, membuatku bertanya pada diriku sendiri. Semua ini sebetulnya berkaitan dengan adikku. Namanya adalah Sari, umurnya baru 16 tahun, usia yang penuh dengan gelora. Sari mempuyai kekasih impian, kekasih yang dicintainya sepenuh hati, sang idola. Namun sang idola bukan hanya idola Sari namun idola khalayak, karena dia memang idola “sesungguhnya”, sang superstar. Sari sudah lama mengidolakan sang idola, sejak pertamakali perjumpaannya di layar kaca, itu satu tahun lalu. Sang idola memerankan peran sebagai pria idaman para wanita, pria yang baik hati, setia dan tampan.

Peran yang membuatnya digila-gilai para wanita. Tak hanya di dunia hiperealitas, namun dalam dunia nyata. Terlebih lagi dengan pengakuannya di berbagai media bahwa ia adalah seorang yang masih sendiri, tak punya kekasih, dan sedang mencari pendamping hidup, maka banyak wanita yang mengharapkan tetesan kasih sayang darinya. Semua itu kupercayai saja, sampai suatu saat.

Saat itu saat dimana di suatu siang yang terik, saat dimana aku sedang pergi ke pusat perbelanjaan di Singapur bersama seorang teman, aku melihatnya melintas tepat di depanku. Namun ia tak sendiri, bersama seorang wanita yang dirangkulnya mesra. Kuikuti mereka, sekedar ingin tahu. Temanku tak keberatan, ia ikut saja apa yang kulakukan. Sang idola tampak sesekali bercanda dengan wanita yang dirangkulnya, sesekali bahkan ia mencium kening sang wanita. Aku teringat baru beberapa hari lalu, ia menjawab masih saja sendiri, ketika ditanya oleh wartawan. Namun mengapa sekarang ia merangkul seorang wanita yang tampak bagiku seperti kekasihnya?

Pertanyaan itu menggangguku, namun belum kuceritakan pada siapapun, termasuk pada adikku, orang yang mengidolakannya. Beberapa hari paska kepulanganku dari Singapur, aku diajak oleh teman yang sama untuk berplesir ke Bali. Jangan heran, bersenang-senang adalah pekerjaanku sehari-hari, tak masalah toh aku orang kaya.

Di Bali aku menginap di sebuah hotel mewah. Di situ pulalah aku mengalami perjumpaan kedua kali dengan sang idola. Ia tampak bersama seorang wanita, namun bukan wanita yang waktu itu. Wanita ini tampak lebih seksi dari segi pakaiannya, ia memakai celana yang sangat pendek, dan bajunya sedikit terbuka, memperlihatkan belahan dada sang wanita.

Kamar sang idola ternyata bersebelahan dengan kamarku. Aku melihat mereka berdua berangkulan mesra, dan memasuki kamar sang idola secara bersamaan. Entahlah apa yang dikerjakannya di dalam, tapi aku punya dugaan layaknya dugaan kebanyakan orang jika berada dalam situasi ini.

Keesokan harinya, entah kebetulan atau kah takdir, aku berjumpa kembali dengan sang idola. Ia tampak sedang santai berjemur di pinggir pantai dengan sang wanita. Aku berusaha tak memperdulikan keadaan itu, tapi entah mungkin karena keingin tahuan ku yang besar, aku sesekali mencuri pandang ke arah mereka, dan pada pandangan ke lima aku melihat bibir mereka bercumbu mesra. Bibir pantai menjadi saksi bisu pertemuan kedua bibir mereka yang saling melumat.

Rangkaian pertemuanku dengan sang idola membuatku bertanya-tanya sampai saat ini, berdialog dengan diriku sendiri. Haruskah aku memberitahukan kejadian ini pada para idolanya atau paling tidak pada adikku? Haruskah ku buka topeng sang idola dan menunjukan keborokannya yang dapat menghancurkan reputasinya sekaligus menghancurkan impian para wanita yang mengharapkan cintanya? Haruskah kubiarkan ini, adikku terhanyut dalam bayang semu dalam keadaan mencinta? Haruskah pula kuhancurkan rangkaian cinta yang telah lama terukir indah di hati adikku dan merusak hari-harinya?

Cerita II:

Namaku adalah Bagas. Aku adalah sang idola. Aku digila-gilai banyak wanita. Aku sangat tampan, tubuhku atletis, terdapat lekukan-lekukan otot pada perutku yang menunjukan kelaki-lakianku.

Pada media, aku mengaku tak punya kekasih dan berkata sedang mencari. Tapi itu bohong. Aku hanya berpura-pura. Aku memakai topeng dalam menjalani kehidupanku, agar para wanita yang mengidolakanku tak lari. Sebetulnya aku mempunyai banyak kekasih. Jumlahnya tiga orang. Mereka tak saling mengenal, aku pandai mengatur jadwal, dan mereka mau mengerti atas latar belakang pengakuan ku pada media bahwa aku tak memiliki kekasih. Dan entah karena keberuntungan atau apapun itu, aku tak pernah kepergok media.

Hidupku sangat bahagia dibalut kasih ketiga wanita itu. Setiap ada kesempatan aku berusaha bercinta dengan salah satu dari mereka. Bercinta dalam arti yang sempit, melakukan hubungan badan. Aku sangat menikmatinya. Menikmati setiap sentuhan mereka, menikmati setiap aroma tubuh mereka.

Hidupku berjalan lancar. Sampai suatu hari mimpi itu datang. Mimpi tentang perihal yang kulakukan adalah suatu kesalahan dan harus disudahi. Tak hanya sekali mimpi itu datang, kerap kali mimpi itu datang mengganggu tidurku sampai saat ini. Aku jadi tak tenang dan mulai berpikir tentang tindakannku itu.

Beberapa hari ini tak kutemui salah satu dari ketiga kekasihku. Mereka mencoba menghubungiku tapi kuacuhkan. Aku sedang sibuk. Sibuk merenungi diri. Apakah ini akibat kesalahanku? Namun apakah yang kulakukan itu suatu kesalahan? Haruskah ku sudahi ini dan memberitahukan pada ketiga kekasihku tentang hal yang sebenarnya? Tapi bukankah itu berarti menghancurkan reputasiku karena bisa saja salah satu dari mereka membocorkan ke media? Tak hanya itu, bukankah itu berarti menghancurkan rangkaian cinta yang telah terukir indah dalam hati ketiga kekasihku dan merusak hari-harinya? Bukankah itu pula berarti menghancurkan rangkaian cinta yang telah terukir indah dalam hati para idolaku dan merusak hari-hari mereka? Haruskah?

Cerpen tentang Oposisi Biner

Kau salah-kau benar, kau tampan-kau jelek, kau modern-kau tradi

Oleh: Tito Erland S

Kau salah-kau benar, kau tampan-kau jelek, kau modern-kau tradisonal, kau modis-kau kuno. Oposisi biner itu terus mengelayut dikepalaku, menusuk-nusuk saraf otak. Muak jadi dibuatnya.

Sejak dahulu aku dan para manusia lainnya dijejali dengan sampah demikian. Dijadikan robot yang tak dapat berpikir sendiri dan hanya menerima titah-titah suci dari sang tuan. Tak menjadi soal ketika aku masih kanak-kanak, namun kini aku telah dewasa, dapat berpikir sendiri, dapat menentukan mana yang baik untukku dan mana yang tidak, tetapi tetap saja petuah moralitas itu selalu menghujami tubuhku, menggangu eksistensi pribadiku.

“Gus, keluar dong jangan dikamar mulu, ga baik”, panggil seorang teman.

Ah, sial, batinku. Apa urusan dia jika aku sering berdiam di kamar. Tahu apa dia tentang apa yang kukerjakan sehingga kemudian merasa pantas menilai mana yang baik untuk ku. Ku diamkan saja panggilan temanku itu. Aku lebih memilih melanjutkan khyalanku tentang oposisi biner.

Oposisi biner, ya oposisi biner, seperti yang dilakukan temanku, membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, bahkan kemudian mencampuri eksitensi pribadi. Padahal bagiku manusia dewasa layak mempertanyakan ulang perihal kebenaran. Manusia dewasa layak mempertanyakan ulang tentang mitos kecantikan dan ketampanan, tentang yang modern dan tidak, dan segala hal lainnya. Karena manusia dewasa sudah dapat berpikir menggunakan akalnya sehingga kemudian dapat menentukan jalannya sendiri. Karena segala sesuatu yang tampak baik dan buruk hari ini adalah jalinan makna yang dibentuk dalam suatu “perbincangan”, di mana didalamnya terdapat hukum “siapa yang berkuasa dia yang menentukan”

Sangat pantas ketika seorang individu menghancurkan pembeda baik-buruk dalam konteks universal. Sangat pantas ketika seorang individu menciptakan baik-buruk versinya sendiri dengan satu catatan penting tak menggangu eksistensi lainnya.

“Bagus, keluar dong, masa cowok di kamar mulu”, panggil temanku yang rupanya belum menyerah.

“Suka-suka gue kali”, ku jawab itu dengan keras, mengakhiri usahanya membujukku untuk keluar.

Kebenaran?

Oleh: Tito Erland S

Krik..krik.. Suara jangkrik terdengar begitu merdu. Mengiringi obrolan dua orang kawan, Badu dan Rudi. Saat itu mereka berdua sedang bersantai di serambi depan rumah Rudi, menikmati secangkir kopi hangat seraya menikmati udara malam. Mereka membincangkan sesuatu yang tak begitu jelas, keabsurdan, tentang kebenaran.

Badu: Rud, kau tahu apa kebenaran itu?

Rudi: Kebenaran adalah putih lawan dari hitam

Badu: Semutlak itu?

Rudi: Ya

Badu: Tak adakah ungu, hijau, merah atau biru di dalamnya?

Rudi: Sudah kukatakan

Badu: Bagiku sebaliknya

Rudi: Mengapa demikian?

Badu: Karena kebenaran di satu tempat berbeda dengan ditempat lain, kebenaran di suatu waktu juga berbeda dengan waktu lain. Kebenaran terikat ruang dan waktu. Kebenaran adalah relatif. Contohnya telanjang dada di pantai pada sebagian negara bukanlah sesuatu yang salah, berbeda dengan negara lain yang menyalahkannnya, menganggapnya tak bermoral

Rudi: Itu hanya adat istiadat

Badu: Ya, adat istiadat yang memberikan makna yang berbeda-beda pada kebenaran

Rudi: Hmm.. Bagiku kebenaran adalah mutlak, harus murni, tak terjamah oleh otak nakal yang menghancurkannya. Itu semua untuk keteraturan. Contohnya manusia tak boleh berboohong, maka itu harus dipatuhinya

Badu: Oo.. Tak juga menurutku. Itu semua tergantung pemaknaan individu maupun masyarakat. Itu bukanlah sesuatu yang mutlak. Terkadang berbohong itu baik, begini contohnya, jika ada seorang teman yang datang kerumahmu dan berkata dia akan dibunuh oleh orang yang sedang mengejarnya, untuk itu dia sembunyi di dalam rumahmu. Lalu ada tiga orang pria yang datang menanyakan keberadaan temanmu, orang yang mereka cari, apakah kau akan memberi tahunya? Aku pikir tidak, kau akan berbohong mengatakan tidak tahu, di situlah letak bahwa kebenaran relatif. Pada titik itu kebenaran sudah dimaknai melalui kearifan individu

Rudi: Kalau kebenaran itu relatif, bagaimana dengan nasib keteraturan?

Badu: Pada kesepakatan bersama dalam lokus tertentu, bukan secara universal, untuk itu tentu dibutuhkan kearifan. Karena pada dasarnya setiap manusia mempunyai rasionalitas untuk mendefinisikan kebenaran

Rudi: Kearifan?

Badu: Kearifan, bahwa tak boleh mencubit jika tak ingin dicubit

Rudi: Bukankah selama ini begitu? Kebenaran dibuat melalui perwakilan masyarakat?

Badu: Tak juga, nilai kebenaran yang dipakai adalah kebenaran versi penguasa, penuh dengan otoritas kebenaran mutlak. Orientasi seks tertentu yang tak umum, masih dianggap menyimpang, padahal mereka tak mencubit siapapun. Agama yang tak sesuai otoritas kebenaran tak dibiarkan hidup, dianggap sesat, padahal mereka pun tak mencubit yang lain. Ideologi tertentu tak dapat porsi eksistensi. Seharusnya semua hidup dalam harmoni, berdampingan, tanpa harus saling mencubit.

Rudi: Tapi bukankah harus tetap ada nilai universal? Semisal manusia tak boleh menghilangkan nyawa orang lain

Badu: Pada kasus tertentu bisa saja hal itu dibenarkan. Semisal kasus euthanasia yang diperbolehkan di beberapa negara. Itu menunjukan kebenaran tak mutak, tak bisa diterima begitu saja, harus ada rasionalitas yang mendampinginya. Kasus euthanasia diperbolehkan di negara lain karena untuk kepentingan si pasien agar tak tersisa oleh sakit yang diderita. Contoh lain adalah hukuman mati yang dilaksanakan di berbagai negara, karena terdakwa dianggap sudah sangat berat kesalahannya merugikan orang lain.

Rudi: Jadi kebenaran tak mutlak?

Badu: Begitulah. Karena kebenaran seharusnya ditujukan untuk kepentingan manusia bukan untuk memenjarakan manusia

Rudi terdiam, sambil kemudian meminum tegukan terakhir dari cangkirnya. Malam kian ralut. Mata pun mulai memerah. “Kita lanjutkan besok saja, aku sudah ngantuk”, kata Rudi seraya masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Badu yang malam itu menginap di rumahnya.

Erl dan Boneka Mungilnya

Oleh: Tito Erland S

“Rumahku”. Puisi terindah yang sinarnya pernah terpantul pada kedua bola mata ini, diberikan segenap oleh boneka mungilku yang nyata. Membuat diri ini menatap ke belakang sekaligus meniti langkah ke depan. Menyentuh titik kesadaranku dan mengangkat dari ketidaksadaran.

“Rumahku” hadir di pangkuan saat badai hampir menghancurkannya. Menjadi penyelamat dari cobaan yang maha dahsyat itu.

“Maaf aku hampir menjatuhkan rumah yang pernah kita bangun”, kataku.

“Tak apa Erl, aku mengerti karena rasa yang tersimpan di dada ini”, kata princess oger, boneka mungilku.

Ia tersenyum kepadaku dan kemudian butiran air masuk kedalam rongga mulutnya.

“Hapus air mata itu oger, kita susun lagi batu demi batu agar rumah ini dapat menjadi kediaman yang sempurna untuk kita. Jangan lagi kau bersedih, kerena kelak kita akan bahu membahu selalu menjaga rumah itu, mungkin selamanya”.

Diana

Empat puluh hari pasca kematian kekasih hatinya, tak lagi pernaOleh: Tito Erland S

Empat puluh hari pasca kematian kekasih hatinya, tak lagi pernah haru biru menggerogoti hati Diana. Hidupnya hampir kembali normal. Tak seperti beberapa hari setelah kejadian itu, bayangan kekasihnya sering muncul menghantui tidur malamnya. Dia selalu takut akan kemunculan sosok kekasihnya, yang seolah-olah hidup dan menuntut kejelasan dari semua peristiwa yang terjadi.

Semua mungkin karena perasaan bersalah yang dideranya. Berawal dari sebuah keributan kecil, tentang keruwetan persimpangan hidup yang harus dipilih, hingga akhirnya berakhir di ujung belati. Kekasihnya mati. Di tangan Diana berlumuran darah pujaan hatinya. Ia benar-benar panik, zat-zat dalam tubuhnya bergejolak sehingga kemudian membentuk reaksi alamiah, sekujur tubuhnya kini dibanjiri dengan cairan hasil pembuangan. Sejenak ia terdiam, lalu menyudutkan dirinya di samping sebuah lemari. Kedua lengannya terangkat menutupi wajahnya. Dari matanya keluar jeritan emosi yang mengalir deras.

“Tidakkkk”

Setengah jam sudah Diana seperti itu. Kehisterisannya menutupi akal sehat. Akhirnya ia sadar, bahwa semua itu harus dibereskan. Tak boleh ada lain manusia yang mengetahuinya. Diana pun bangkit dari keterpurukan, lalu menggenggam kedua kaki kekasihnya, kemudian dengan sekuat tenaga menyeret tubuh itu kehalaman belakang. Dengan cangkul, ia menggali sebidang tanah. Entah mengapa meskipun hal itu tak pernah dilakukan, ia seperti seorang ahli, tak lama kemudian sebuah lubang menganga pun sudah selesai dikreasikan. Ia lalu menyeret tubuh itu ke dalamnya.

“Maafkan aku”, katanya sambil menutupi lubang dengan tanah.

Diana lalu kembali ke ruangan tadi, membersihkan sisa jejak.

Semua sudah berakhir, pikirnya.

Beberapa hari sesudah kejadian itu, Diana takut untuk keluar rumah. Ia takut keluarga sang pria mencari kekasihnya itu. Terlebih lagi jika polisi sudah turun tangan menyelesaikan kasus itu. Tapi sudah dua minggu berlalu, semua tak jadi kenyataan. Entah mengapa sepertinya tak ada yang mengkhawatirkan keadaan kekasihnya itu. Keluarga kekasihnya itu bahkan tak menelepon Diana untuk menanyakan kabar.

Hari ketiga puluh, ia sudah berani keluar rumah. Bayangan wajah tampan kekasihnya tak lagi terlintas dalam kehidupannya. Sampai kemudian semua itu terjadi, hari keempat puluh, saat ruh akan terbang selamanya dari bumi, di sebuah jalan ia melihat kekasihnya itu, lewat di depannya dan seolah begitu nyata.

Ia tampak hidup, batin Diana.

Kekasihnya itu berjalan melewatinya, tapi tak mengenalnya. Tak sedikitpun matanya melirik ke arah Diana. Diana sendiri pun tak berani menatapnya langsung, hanya melihat lewat kedua ujung matanya.

Melihat semuanya itu, Diana tak tahu harus berbuat apa. Ia lalu segera berlari kerumahnya. Di dalam rumah terbayang semua kejadian itu. Perasaan berkemacuk dalam dadanya, antara perasaan takut dan anehnya perasaan senang. Diana lalu meracau sendiri, tertawa keras-keras lalu kemudian menangis. Diana larut kembali dalam memori yang menyiksa jiwa itu.

Pelangi itu Tak Muncul Lagi

Oleh: Tito Erland S Hujan turun dengan derasnya, mengguyur bumi ini. Alam sedang menangis. Tangisan yang sesungguhnya memberi kehidupan pada tubuh-tubuh yang haus akan airnya. Saat itu sang hujan turun disertai dengan gerak sang angin yang begitu dahsyat. Namun sang angin tak menghancurkan, hanya menggetarkan sanubari yang disapanya. Hanya halilintar yang tampak garang. Dia menyalak-nyalak bak anjing penjaga pintu neraka, semua yang mendengarnya tampak begitu pucat dan memohon perlindungan pada Sang Pengatur mereka semua. Hampir tak ada seorang pun yang berani keluar dari tempat perlindungannya, mereka takut melihat halilintar yang sudah berhasil menghitamkan seorang anak kecil yang terlambat pulang. Hanya diriku yang berani keluar, seakan menantang alam. Para manusia-manusia bijak meneriaki ku, memperingatkan akan kemalangan yang sewaktu-waktu dapat menjemputku. Seorang gadis berkata: “Apa yang kau lakukan wahai pria tampan? Kemanakah letak cairan kebijakan yang selama ini kau agung-agungkan? Apa yang sebenarnya hendak kau cari dan kau buktikan? Tak tahukah kau alam dapat menenggelamkan mu pada lautan kematian dan memberi tangisan pada para manusia yang mencintaimu? Kembalilah ke perlindunganmu” Kuperhatikan wajah gadis itu, sangat cantik dan meneduhkan. Kata-katanya penuh dengan wangi kearifan. Terima kasih, batinku, tapi maaf saja aku tak dapat mengikuti titahmu kali ini. Aku harus mencari sesuatu yang dapat membuatku merasa di dunia keabadian. Ku terus berlari di tengah hujan. Di sebuah tanah lapang, kubentangkan tanganku, berlari memutar-mutar seperti anak kecil yang memerankan dirinya sebagai sebuah pesawat. Halilintar terus menyambar-nyambar. Hampir aku terkenanya. Hanya beberapa inci dari tubuhku, kalau tak sempat menghindar mungkin hitam sudah tubuh ini. Aku melakukan semua hal ini, agar dapat menjadi manusia pertama yang melihat keindahan pelangi. Pelangi memang obsesiku. Keindahannya selalu ku rindukan. Tak ingin aku ada orang lain yang lebih dulu menikmati warna-warni yang keluar dari jembatan surgawi itu. Hujan usai akhirnya. Angin dan halilintar pergi bersamanya. Namun aku tak menemukan apa yang ku cari. Pelangi itu tak muncul kali ini. Dia menghilang, tak sudi menyapaku. Haru biru muncul dalam dadaku. Ku tinju alam, tapi dia tak bergeming. Ku berteriak memanggil pelangi. “Pelangi dimanakah engkau? Tak tahukah aku selalu merindukanmu di kala hujan usai? Aku ingin mencumbumu, menikmati aroma tubuhmu. Ingin aku menikmati keindahanmu lagi. Tak ingatkah kau kala pertama kali kita saling mengenal? Saat itu engkau menyapa ku dengan ramah, menyambutku dengan senyum manismu. Diriku selalu teringat masa itu, masa terindah dalam kehidupanku. Aku ingin mengulang pertemuan itu. Saat dimana kita dapat saling bercanda, tertawa dan bahagia. Sudah terlanjur aku mencintaimu, merindukanmu, dan mendoakanmu dalam setiap hembusan nafasku. Tapi mengapa kau tak memperdulikan rasa ini? Kau bahkan tak lagi sudi tak menyapaku. Pelangi kau menghancurkanku, menghancurkan rajutan cinta yang telah terajut dengan indah untukmu” Pelangi tak mendengarkan ku. Ia tampak tak peduli. Aku pun terpuruk dalam kesedihan mendalam, menangisi kepergiannya. Aku pun berbisik dalam kekhusyukan doa. “Pelangi jikalau engkau tak sudi lagi memperlihatkan keindahanmu di dunia ini, biarlah engkau menemaniku dengan keindahanmu di keabadian kelak”.

Stasiun di Malam Hari

Malam itu bulan bersinar terang, tak bulat memang, tapi tetap s

Oleh: Tito Erland S

Malam itu bulan bersinar terang, tak bulat memang, tapi tetap saja menebarkan sejuta keindahan bagi para manusia yang memandangnya. Bams lalu berceloteh dengan bahasa isyaratnya. Ku coba mengartikannya.

“Cobalah kalian pandangi bulan itu. Perhatikan dengan seksama menggunakan mata batinmu. Kelak kalian akan melihat bulan berjalan dengan langkah bak putri raja”.

Malam itu enam manusia penghirup udara keheningan berkumpul di sebuah tempat yang tak begitu besar namun memberikan sejuta kenyamanan. Suasana di tempat itu terasa tepat dalam menemani kami bercengkrama dan berbagi keceriaan.

Sesekali dari tempat itu terdengar suara hewan baja. Hewan tersebut meraung dengan indahnya, membawa kami untuk memandangnya. Tiap kali sang hewan tersebut berhenti sejenak, para manusia di sekitarnya berlomba untuk menungganginya, takut tak terbagi tempat. Kami menikmati kesemua itu, sambil menyantap obrolan sebagai menu utama kami.

Kala itu, Bams menjadi sosok pembawa obor bagi kami. Dia mencairkan kedinginan dunia malam itu. Sisanya, kelima manusia termasuk aku menjadi laron yang mendekati cahaya karena jenuh akan gelapnya dunia. Namun anehnya api dari obor itu tak membakar sayap-sayap kami, dia hanya menghangatkan tubuh kami. Sungguh ajaib, obor kehidupan yang dibawa oleh Bams.

Bams banyak memberi celoteh pada kami malam itu. Ia berkata padaku

“Kejarlah bintang yang kau puja. Jangan kau termenung saja dibuatnya, hanya berpikir tanpa bertindak sesuatu. Sungguh, itu percuma. Kejarlah ia. Berikan keindahan dunia padanya. Berikanlah sejuta puisi untuk meluluhkannya”

Ah, sungguh kata-kata yang keluar dari tangannya adalah mutiara penyemangat hidup. Kata-katanya ibarat tangan manusia yang mengangkatku dari aliran sungai deras yang dapat menghanyutkan diri ini dalam kebingungan.

Bams pun bercerita kembali, kali ini tentang temanku.

“Sulit bagimu teman. Kau ibarat ladang gersang yang tak ingin dikunjungi oleh bidadari yang lebih senang dengan taman surgawi”

Kami semua tertawa mendengarnya. Aku sendiri tak terlalu menjadikan pedoman setiap kata yang keluar dari isyarat Bams, hanya kujadikan sebagai penghibur dan penyemangatku. Ku harap sahabat ku pun begitu, sehingga tak terpuruk ia karena kata-kata Bams.

Bams seakan tak kehabisan energi. Ia mempertunjukan kecakapannya pada kami yang dibuat terkagum-kagum. Ia menunjukan sebuah atraksi sulap kecil dengan sedikit banyolannya. Kami semua bertepuk tangan lalu tertawa. Dan kemudian senyum bahagia karena diajari triknya. Sungguh baik Bams, mau berbagi ilmu pada kami.

Setiap aliran darah Bams seakan teraliri dengan sel-sel bakat alami. Seolah tak habis-habis kemampuannya untuk dipertunjukan pada kami.

Malam itu, bisa saja tak pernah ada, jika Jay tak pernah menantangku untuk melakukan perjalanan spektakuler. Kami berdua rela menempuh ramainya prasarana transportasi darat dengan mengendarai sepeda untuk kemudian singgah di tempat ini. Tak mudah bagiku yang sudah lama tak mengendarainya, untuk kali sekiannya diri ini hampir terlindas kejamnya produk moderenitas.

Namun usai sampai, terbayar sudah. Segala kelelahan menjadi sirna oleh symphony gelak tawa yang diaransemen oleh Bams.

Malam itu sungguh membawa sejuta pesona. Saat detik-detik dimana kelarutan dan kedinian bertemu, kami bersepakat untuk menyudahi pertemuan berharga itu. Lalu pergi kami masing-masing menuju tempat awal keberangkatan.

Kesepian kota Purwokerto kulalui berempat dengan temanku. Sepeda dan motor kala itu beriringan berjalan bersama membentuk sebuah harmony kehidupan. Sungguh pengalaman indah malam itu tak kan terlupakan bagi ku.

Selembar Puisi Untuknya

Ku sandarkan tubuhku pada sebatang Beringin

Oleh: Tito Erland S

Ku sandarkan tubuhku pada sebatang Beringin. Semilir angin yang mengalir diantara dedaunan menyapa hangat tubuh ku, menemani dalam kegetiran. Sudah sejak tadi aku duduk di sana. Sejak matahari masih di ufuk timur dan sekarang berada tepat di tengah bumi. Aku termenung, memandang ke atas langit biru. Ku melamun, angan ini terbang jauh ke dalam hati seorang wanita. Awan yang kulihat seakan berubah menjadi wajah cantiknya. Semuanya di dunia ini seakan tentang dia.

Orang-orang yang berlalu lalang terkadang memperhatikan kelakuan aneh ku ini. Mereka memasang wajah aneh. Orang itu kenapa ya? Melamun sendiri. Gila kali ya?, mungkin begitu pikiran mereka.

Tapi saat itu tak ingin sedikitpun kupedulikan mereka. Lagipula aku tidak gila. Aku hanya sedang jatuh cinta. Tak pernah kah mereka merasakan jatuh cinta?, batinku. Cinta memang terkadang dapat membuat orang terlihat sangat tidak rasional, karena cinta memang bukan tentang rasional atau tidak rasional. Cinta adalah tentang perasaan.

Saat itu aku hanya mempedulikan cintaku. Hanya memperdulikan dirinya, seorang perempuan yang mampu menggetarkan sanubariku. Dia lah pelangiku, yang hadir ketika hujan usai.

Aku tak habis pikir bagaimana bisa meruntuhkan hatinya. Kala ini hatinya sudah tertambat pada sosok lain, dan itu jelas bukan aku. Asa ku ini menggebu-gebu untuk merebut hatinya, menyelami jiwanya. Bukan karena ingin merusak kebahagiaan hidupnya, tapi karena aku sudah tak tahan lagi menahan anugerah surgawi ini dan ingin berbagi dengannya.

Ku tuliskan puisi untuk dirinya pada sehelai kertas putih.

Untuk Dirimu

Untuk dirimu

Yang kupendam jauh dalam hatiku

Yang kusimpan erat dalam anganku

Aku ingin sekali meraih kunci hatimu

Yang dapat membukakan jalan bagiku untuk dapat masuk dalam jiwamu

Yang dapat membuatku menebar sejuta cinta dalam setiap langkah hidupmu

Akan kutukarkan sejuta istana agar aku bisa meraih kunci itu

Akan ku lakukan segala pintamu agar diri ini dapat mengecup hatimu

Kuserahkan segenap jiwaku agar kau sudi kiranya untuk mencintai ku

Ku jaga baik-baik puisi itu sehingga tak seorang pun dapat merebutnya seandainya terjadi. Ku masukan dalam sekantung kain yang terjahit rapih pada selembar rajutan indah bermotif kotak. Kan kukirimkan puisi itu kepada wanita impianku, berharap dirinya mengerti makna yang tersurat dan tersirat dan membalas dengan hatinya.

Aku lalu pulang. Meninggalkan alam yang sedari tadi setia menemaniku dalam kesepian hidup.

Ku berjalan sendirian di setapak jalan. Teriknya matahari menghujam kulit ini, memerahkannya lalu dari dalamnya keluar butir-butir air kehidupan. Butir-butir air kehidupan itu semakin lama semakin banyak, ribuan atau mungkin jutaan, membasahi sekujur tubuh. Tapi tak begitu menderita dikarenakannya, sebab tertutupi pilunya hati ini.

Di persimpangan jalan ku temui sekotak tempat surat. Ku masukan puisi itu lengkap dengan selembar amplop yang telah tertuliskan alamatnya. Lega hati ini sudah bisa mengirimkan puisi itu.

Ku teruskan perjalan hidup. Selangkah demi selangkah akhirnya sampailah aku di tempat peristirahatan sementara ku, tempat yang sebutulnya tak jauh dari perlindungan kekasih impianku.

Aku pun lalu menunggu. Berharap mendapat balasan darinya, apa pun itu, agar aku bisa melanjutkan hidup.

Bersambung sampai suatu saat nanti ketika sang gadis impian membalas puisi ku

Putaran Roda Nasib

Oleh: Tito Erland S Purwokerto, 14 Oktober 2008. Ketika itu hari sudah sore. Butiran-butiran air hujan sedang asyiknya menghujami bumi yang ku pijak. Sudah sedari tadi hujan ini tak kunjung berhenti, mereka seakan berkomplot untuk menghalangiku menjalankan misi yang sangat penting bagi hidup ku. Tapi ku tak patah asa, ku yakin Sang Pengatur Nasibku hanya sedang menguji kesabaran ku. Dia mungkin ingin melihat seberapa besar niat yang mucul dari dalam hatiku. Benar saja, keyakinan ku tak meleset kala itu, menjelang magrib langit tampak bosan melanjutkan tangisannya. Ah, betapa senangnya hati ini. Aku pun lalu mengirimkan SMS kepada Jay: Alhamdulillah. Alam seolah memahamiku. Hujan tampaknya mengerti aku punya hajat yang sangat penting. Ku tunggu kau kawan baik ku untuk mengantarkan ku ke pelabuhan cintaku. Belum terlalu lama aku mengirimkan sms itu, roda nasib seakan berputar dengan sangat cepat. Putarannya lebih cepat dari kilatan cahaya yang menyambar-nyambar bumi di kala hujan. Putaran yang dapat menghantarkan seseorang kedalam keadaan trance atau bahkan tak sadarkan diri. Perasaan senang yang tadi ku alami sekarang berbanding terbalik menjadi suatu kekhawatiran yang berlebih. Hujan seakan mempermainkanku, mereka meledek ku. Mereka kini turun lagi. Ah sial, batinku. Aku pun sekarang pasrah menunggu keajaiban yang dapat menyingkirkan eksistensi hujan ini untuk sementara. Aku pun lalu mengrimkan SMS pada Jay: Wah, ujan lagi Jay. Kalo ga jadi kesini gapapa. Gw ga enak liat loe keujanan. Lama SMS itu tak dibalasnya. Diri ku ini lalu termenung, mungkin besok saja aku ke tempat tambatan hatiku itu, pikirku. Tit.. tit.. Berapa lama kemudian ponsel ku berbunyi. Oh, rupanya SMS dari Jay. Gw bentar lagi kesitu, tunggu ya, begitu bunyi pesan dari Jay. Saat itu sudah pukul setengah delapan malam. Aku pun menunggu kedatangan Jay sambil berharap-harap cemas. Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam dada ku. Senang, takut, khawatir, kesemuanya itu bercampur menjadi satu. Wajar saja jiakalau aku seperti itu, sebentar lagi aku harus menghadapi peristiwa penting dalam hidupku, berkenalan dengan wanita yang selama ini kupuja. Pukul 20:30. Akhirnya Jay datang juga. “Gapapa nih Jay malam-malam ke kosan cewek? Takut ga enak” “Udah gapapa”, kata Jay. Kami pun berangkat ke tempat si gadis. Jarak yang sebenarnya tak terlalu jauh, ku lalui seakan beratus-ratus kilometer jauhnya. Sampai tibalah akhirnya aku dirumah si gadis. Jay pun lalu berinisiatif untuk mengetuk pintu. Sedangkan aku berdiri mematung, seakan masih tak percaya dengan jalinan nasib yang sebentar lagi akan kulalui. Tok.tok.. Jay mengetuk pintu. “Cari siapa ya?”, seorang gadis berkacamata membukakan pintu. Oh, rupanya temannya. “Ina nya ada”, kata Jay. “Ada. Masuk aja dulu mas” Gadis berkacamata itu pun lalu memanggil Ina. “Ina, ada yang nyari tuh” “Siapa?” suara dari dalam menjawab. “Dari siapa ya mas?”, gadis berkacamata itu lalu bertanya pada kami. “Jay”, jawab teman ku itu. Tak lama kemudian Ina pun keluar menemui kami. Aku lalu diperkenalkan oleh Jay. “Oh ya, kenalin ini teman ku”, kata Jay. Aku memperkenalkan diri sambil tersenyum manis padanya, berharap senyuman itu dapat meruntuhkan dinding tebal yang menjaga hatinya. “Ina”, katanya memperkenalkan diri pada ku. Selanjutnya kami bertiga pun larut dalam obrolan. Sebetulnya hanya mereka berdua, Ina dan Jay, yang lebih banyak mengobrol. Sedangkan aku lebih memilih banyak berdiam diri karena mengikuti anjuran suatu teori cara mendapatkan hati wanita. Dalam teori itu disebutkan kalau pria harus tampak misterius biar si perempuan penasaran. Selain itu aku memilih lebih banyak berdiam diri karena aku tidak mempunyai topik yang akan diobrolkan, maklumlah aku baru kenal dengannya. “Anak Hukum ya?”, kataku menyela pembicaraan mereka, “Aku pernah liat kamu di Hukum”. “Iya, kamu anak Hukum juga?” “Bukan”, jawabku. Aku pun lalu menjelaskan bahwa aku berasal dari fakultas lainnya. “Angkatan 2005 juga?”, katanya. “Bukan 2004” Paska pembicaraan itu, dia banyak bertanya tentang teman-temannya yang satu fakultas dengan ku. Tapi aku tak tau semuanya, hanya berapa nama saja yang aku tau. Kejadian selanjutnya adalah dia lebih banyak berbincang dengan Jay. Aku hanya sesekali nimbrung dalam pembicaraan mereka. Diriku ini lebih banyak memperhatikan wajah nya yang luar biasa cantik itu. Jikalau diibaratkan wajahnya bak bidadari yang sering digambarkan hidup di taman-taman Firdaus. Kulitnya ibarat air surga yang jernih, tanpa noda sedikitpun. Tatapan matanya meneduhkan sekaligus melumerkan hatiku. Sungguh kawan, aku tak pernah melihat wanita lain secantik dia di dunia ini. Tapi kesemuanya itu tentu saja kulakukan secara sembunyi-sembunyi. Aku mencuri-curi kesempatan untuk memandang wajah cantiknya, takut dia memergokiku, tak enak lah nanti jadinya. Pukul 21:00. Jay mengajak ku pulang. “Pulang yuk”. “Ok”, kataku. Kami pun lalu berpamitan pulang. Sebelum pulang aku melemparkan senyum manisku, masih berharap senyum itu dapat meluluhkan hatinya. Sebelum pulang aku dan Jay makan terlebih dulu. Kami makan malam di sebuah warung lesehan. Sambil makan aku menceritakan pada Jay bahwa aku sangat senang malam itu, dapat berjumpa dengan bidadari yang selama ini ada dalam doa-doaku. Selesai makan, aku pulang, sementara Jay lebih memilih untuk ngenet terlebih dahulu. “Thank you ya Jay”, kataku pada akhir perpisahan kami di malam itu.
***
Pagi hari pukul 07:00. Aku mengrimkan SMS pada Ina, berharap dapat lebih dekat mengenalnya. Isi pesanku: Hai Ina. Niy yg kemaren main ke kos kamu, temannya Jay. Salam kenal ya . O iya jangan lupa simpen no ku ya.. hehe.. SMS pun terkirim. Lama tak mendapat jawaban. Aku pun lalu pergi ngenet. Pagi itu aku memang berencana untuk ngenet, ingin mengupload puisi yang semalam aku buat selepas pulang makan malam bersama Jay. Puisi itu ku buat tentang perasaanku yang sangat senang malam itu. Beginilah puisinya:
Sekeping Nasib
Malam ini Sang Pencipta Kehidupan membukakan pintu-pintu surganya. Dari dalamnya tercium aroma semerbak surgawi yang dapat menentramkan jiwa siapapun yang menghirupnya. Dia mendengar, batinku. Sungguh mulia Dia, mau mempertemukan diri ini dengan mimpi-mimpi yang telah lama kurangkai. Syair yang selama ini kulantunkan rupanya telah bermetamorfosis menjadi sebongkah realitas yang dapat kugenggam. Dia Maha Tahu, Maha Mengerti, maka dengan kekuasaanNya diutuslah seorang bidadari untuk menemaniku. Bidadari itu memiliki rupa yang sangat jelita, wajahnya menunjukan kecantikan abadi yang tak kan sirna termakan waktu. Rambutnya yang hitam legam dibiarkannya tergerai, menambah daya magis dalam dirinya. Matanya yang penuh keteduhan sesekali menatapku, semakin membuat hatiku melumer. Sungguh suatu mukjizat aku dapat menatapnya sedekat ini. Malam ini sungguh malam yang sangat indah. Segenap alam seakan mendukungku agar melanjutkan sekeping nasib yang telah ku genggam. Purwokerto, 14 Oktober 2008. Baru selesai diri ini meng upload puisi itu ke blog ku, ponselku berbunyi. Ada pesan singkat, kubaca siapa pengirimnya. Oh, ternyata dari Ina. Senyumku pun langsung merekah. SMS itu lalu kubaca: Niy ma cowoknya Ina. Deg. Aku terkaget. Aku tak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Aku memang sudah mengetahui bahwa Ina sudah punya pacar, tapi ku pikir tak ada salahnya aku mengenalnya lebih dekat. Aku berharap Ina sendiri yang menjawabnya, tapi kenyataan berkata lain. Tapi ya sudahlah nasi sudah menjadi bubur. Putaran roda nasib sedikit banyak mampu menjungkirbalikan perasaanku. Tuhan memang Maha Kuasa, Dia dapat membolak-balikan hati seseorang seperti yang Dia kehendaki. Hatiku yang tadinya gembira, dalam sekejap mata berubah menjadi kesedihan yang amat sangat. SMS itu lalu ku balas dengan sopan: Sory, gw cuma temen aja. Maaf. Tak ada balasan. Aku pun merana. Menangisi kasih tak sampai ini. Tapi di balik semua itu, aku tak gentar sedikitpun. Putaran roda nasib saat ini mungkin sedang tidak memihak ku, tapi tak dapat meredupkan api semangatku. Kan ku kejar mimpi itu sampai ke ujung dunia. Aku berjanji pada diri ini, tak kan pernah melepas mimpi itu.