.
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Puisi tentang Laut

Malam hari, saat bintang gemintang mulai mengerlingkan sinarnya

Oleh: Tito Erland S

Malam hari, saat bintang gemintang mulai mengerlingkan sinarnya pada manusia-manusia bumi, aku terduduk sendirian di pinggir pantai. Malam yang tak begitu gelap karena sang bulan menemani kesendirianku dengan sinar penuhnya. Pada hamparan pasir pantai, kogeraskan jari jemariku membentuk suatu lukisan. Namun air pasang dan deburan ombak segera menerjang hasil karya itu. Meluluhlantahkannya sehingga kemudian tak berbentuk.

Aku terdiam melihat semuanya, menyesali keadaan yang mengharu birukan hati. Tak berlebih, karena bagiku setiap karya terbuat dari seuntai jiwa yang terolah.

Kucoba kembali melukiskan hal yang sama, tapi kemudian sang ombak pun kembali lagi, seakan menantang dengan segala keangkuhannya. Ataukah sebenarnya ini adalah kebodohanku, yang congkak menantang alam, berharap sang laut mau menyapa hangat buah jiwaku. Harapan yang sesungguhnya timbul sebab laut pernah melakukannya, menyapa hangat lukisanku saat ia tenang. Namun laut kini berbeda. Ia seolah membenciku dan karyaku. Aku ingin semua seperti dulu. Tapi entahlah apa itu dapat mewujud kembali. Kini ku hanya termenung, sendirian dalam keautisanku.

Krisis

Krisis

Oleh: Tito Erland S

Mungkinkah Pak Jenggot benar?

Bahwa para ratu penghisap tenaga semut pekerja sedang menggali lubang kuburnya sendiri?

Entahlah, yang jelas mereka sedang kebakaran jenggot, namun bukan jenggot milik Pak Jenggot

Krisis sedang mengombang-ambingkan mereka, mengganggu kenyenyakan tidur

Tapi mungkin mereka masih bisa hidup dalam jangka lama

Apalagi kalau bukan sebab kebijakan para tikus yang mendukungnya

Seenaknya para tikus memberi mereka keju, padahal jelata lah yang sesungguhnya sangat membutuhkan

Ah, memang seharusnya para tikus itu dibakar bersama mereka

Agar hangus tak tersisa, tergantikan generasi baru

Sosok Ceria di Stasiun

Oleh: Tito Erland S Bams, kau adalah sosok baru dalam hidup ku Kau masuk ke dalam jiwa ini dan membelainya dengan halus Tak sangka secepat itu diri mu mampu menaklukan jarak yang membelah keakraban Sosok dingin ini mampu kau hangatkan dan membuatnya cair bahkan kemudian mengikuti panas yang kau bawa Bams, malam itu mungkin bulan pun iri padamu Pada diri ini kau menunjukan sebagian keindahan yang ada pada mu Dalam diri mu tertanam sejuta potensi Setiap tetes darahmu dialiri oleh bakat abadi Kau meramalku Mengatakan aku harus mengirim bunga pada keindahan yang kupuja Ah, kata mutiara mu itu semakin membuatku bersemangat mengejar mimpi itu Mimpi yang kau baca dari garis-garis kehidupanku Kau bermain sulap Memamerkan kecepatan tanganmu Membuat ku terkagum Membuat ku terheran dan kemudian tertawa karena kau melucu Malam itu kau membawa kecerian Pada ku, Jay, Mas Suroto, Irna, dan Wahyu Terima kasih Bams Semoga kecerianmu abadi

Kematian Sebatang Bunga

Oleh: Tito Erland S
Bunga itu telah mati Aku yang memetiknya Namun biarlah bunga itu tumbuh lagi setelah kematianku Biar dia kembali menghiasi dunia ku dalam keindahan taman abadi

Curhat untuk Sahabatku

Oleh: Tito Erland S Sahabatku dengarkanlah kisah ku dalam menapaki hidup Ini kala aku terjebak dalam benang kusut realitas kehidupan Segumpal daging dalam tubuh ini tertambat pada dua pusat keindahan Aku tak mengerti harus bagaimana menghadapi kesemuanya Bisakah hati terbelah menjadi dua, atau bahkan terpecah menjadi berkeping-keping? Salahkah itu? Dosakah itu?

Cinta Keindahan

Oleh: Tito Erland S Aku mencintainya karena engkau ya Rab Kerena Engkau Maha Indah dan pencinta keindahan Aku mencintainya karena diriMu menganugrahkan keindahan abadi yang terpatri jelas dalam setiap inci tubuhnya Keindahan yang mendekati kesempurnaan keindahanMu Meskipun aku yakin tak satupun yang dapat menyamai keindahanMu Aku tak kan mengkhianati rasa ini ya Rab Karena rasa ini adalah anugerah manis dari Mu Akan ku jaga baik-baik rasa ini Ku masukan dalam kotak hati yang dikawal oleh seribu penjaga Entah sampai kapan Mungkin selamanya Untuk keindahan yang kukenal ketika malam tiba, ketika hujan selesai menyirami bumi ini, ketika aku diperkenalkan keindahan itu oleh sahabatku. Ketika itu 14 Oktober 2008

Sekeping Nasib

Oleh: Tito Erland S Malam ini Sang Pencipta Kehidupan membukakan pintu-pintu surganya. Dari dalamnya tercium aroma semerbak surgawi yang dapat menentramkan jiwa siapapun yang menghirupnya. Dia mendengar, batinku. Sungguh mulia Dia, mau mempertemukan diri ini dengan mimpi-mimpi yang telah lama kurangkai. Syair yang selama ini kulantunkan rupanya telah bermetamorfosis menjadi sebongkah realitas yang dapat kugenggam. Dia Maha Tahu, Maha Mengerti, maka dengan kekuasaanNya diutuslah seorang bidadari untuk menemaniku. Bidadari itu memiliki rupa yang sangat jelita, wajahnya menunjukan kecantikan abadi yang tak kan sirna termakan waktu. Rambutnya yang hitam legam dibiarkannya tergurai, menambah daya magis dalam dirinya. Matanya yang penuh keteduhan sesekali menatapku, semakin membuat hatiku melumer. Sungguh suatu mukjizat aku dapat menatapnya sedekat ini. Malam ini sungguh malam yang sangat indah. Segenap alam seakan mendukungku agar melanjutkan sekeping nasib yang telah ku genggam. Purwokerto, 14 Oktober 2008.