.

Studi di Belanda: Kunci Jawaban Menghadapi Tantangan Globalisasi

Oleh: Tito Erland

Dunia, saat ini adalah ibarat hutan belantara. Banyak yang harus saling berebut makanan demi mempertahankan eksistensi kehidupannya. Maka dengan begitu berlakulah hukum rimba, siapa yang terkuat ialah yang paling mampu bertahan, mampu jadi sang pemenang yang dapat berdiri anggun merayakan kedigdayaannya.

Ilustrasi di atas mungkin dapat menggambarkan kondisi dunia saat ini. Di era pasar bebas ini, banyak orang yang saling berebut mencari sumber pendapatan. Setiap hari ada saja derai tangis manusia yang keluar karena tak juga mendapat kesempatan kerja. Terlebih lagi setiap tahunnya lahir angkatan kerja baru yang begitu melimpah namun tak diimbangi dengan tersedianya lapangan kerja yang memadai.

Persaingan yang terjadi dalam mencari mata pencaharian terkadang tak hanya terjadi antara individu-individu yang berasal dari satu negara saja, namun persaingan tersebut telah menjadi persaingan individu dari berbagai negara. Hal tersebut terjadi karena dunia yang kita pijak saat ini sedang berputar dalam arus globalisasi. Dengan globalisasi maka dunia menjadi semakin sempit, batas-batas negara seolah menghilang. Globalisasi pula yang membuat rasa kebangsaan mulai luntur sehingga untuk mendapatkan sebuah pekerjaan tak lagi dipentingkan dari mana kita berasal namun kemampuan apa yang kita miliki.

Untuk bersaing dengan individu-individu dari negara lain tentu kita harus dibekali kemampuan yang cukup. Salah satu cara yang menjadikan kita mampu bersaing ditengah-tengah arus globalisasi adalah dengan menempuh studi di Belanda. Hal ini dimungkinkan karena lembaga pendidikan tinggi di Belanda memiliki mutu pendidikan bertaraf internasional yang mampu menjadikan lulusannya memiliki kinerja yang sangat baik di manapun mereka berada. Terlebih lagi pada tahun 2008, secara keseluruhan, universitas-universitas Belanda masuk ke dalam jajaran Top 200 University, seperti Uthrecht University, University of Amsterdam, dan Leiden University.

Tingginya mutu pendidikan tinggi di Belanda inilah yang membuat banyak masyarakat dari berbagai penjuru dunia menjatuhkan pilihannya untuk menempuh studi di Belanda. Tercatat setidaknya terdapat 55 negara yang menjadi asal mahasiswa yang menempuh studi di Belanda. Mahasiswa Indonesia sendiri pada tahun 2008 menempati posisi ke-5 untuk jumlah mahasiswa asing di Belanda. Pada tahun 2007/2008 setidaknya ada 1.450 mahasiswa dari Indonesia yang menempuh studi di Belanda.

Kenyataan tersebut menjadikan studi di Belanda merupakan solusi tepat agar kita dapat bersaing di tengah-tengah persaingan masyarakat dunia dalam mencari mata pencaharian. Dengan kata lain, studi di Belanda adalah tiket menuju komunitas global, komunitas yang di dalamnya terdapat persaingan ketat dari masyarakat dari berbagai penjuru dunia.

Sumber bacaan:

http://www.topuniversities.com/, diakses tanggal 27 April 2009

http://www.nesoindonesia.com/, diakses tanggal 27 April 2009

Mencari Ilmu Sampai ke Negeri Belanda

Oleh: Tito Erland S

Serpihan-serpihan ilmu memang begitu mengagumkan. Lewat ilmu kita dapat mengetahui sistem radiasi perpindahan kalor dari matahari menuju bumi. Lewat ilmu pula kita dapat mengetahui gaya tarik antara molekul-molekul penyusun zat padat yang sangat kuat sehingga mereka selalu bergetar pada posisi yang sama dan tetap berada dalam satu kesatuan. Lewat ilmu kita dapat mengetahui beragam persoalan di dunia ini dan cara pemecahannya.

Begitu bermanfaatnya ilmu, sehingga tak heran jika banyak orang melalang buana mencarinya. Mereka rela menempuh jarak beratus-beratus kilometer demi menghilangkan dahaga akan ilmu.

Salah satu negara tujuan masyarakat dunia dalam menuntut ilmu adalah Belanda. Belanda adalah sebuah negeri indah yang terletak di Eropa bagian barat laut. Salah satu keindahannya terpancar pada Amsterdam Canal, suatu tempat yang memukau dimana kita dapat menikmati indahnya kemilau lampu di sepanjang kanal tersebut pada malam hari.

Negara Belanda dibagi kepada dua bagian utama oleh sungai Rhine (Rijn), Waal, dan Maas. Secara administratif, Belanda dibagi dalam 12 provinsi yaitu Friesland/Fryslân, Drenthe, Overijssel, Flevoland, Gelderland, Utrecht, Noord-Holland, Zuid-Holland, Zeeland, Noord-Brabant, Limburg, dan Groningen.

Dalam bidang pendidikan, sistem pendidikan di Belanda tersedia dua jenis pendidikan tinggi reguler yang utama yaitu universitas dan University of Applied Sciences. Universitas melatih para mahasiswanya untuk menggunakan ilmunya secara mandiri. Sementara University of Applied Sciences, atau yang dikenal pula dengan sebutan Hogeschool, lebih berorientasi ke praktek; para mahasiswa langsung diarahkan untuk meraih jenjang karir di bidangnya. Belanda juga memiliki lembaga Institut Pendidikan Internasional yang sudah sejak lama menawarkan program-program yang dirancang khusus bagi mahasiswa asing.

Untuk dapat menempuh studi di Belanda, kita tak harus memiliki kemahiran berbahasa Belanda. Hal tersebut dimungkinkan karena pendidikan tinggi Belanda menyediakan lebih dari 1400 program studi internasional yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar perkuliahan tentunya menjadikan studi di Belanda menjadi lebih mudah untuk dijalani, terutama para peminat yang berasal dari Indonesia yang umumnya lebih familiar dengan Bahasa Inggris dibandingkan dengan Bahasa Belanda.

Salah satu keuntungan dari menempuh studi di Belanda adalah mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan mahasiswa lainnya dari berbagai belahan dunia. Hal ini terjadi karena mahasiswa asing yang menempuh studi di Belanda berasal dari 55 negara. Indonesia sendiri pada tahun 2007/2008 “menghantarkan” 1.450 mahasiswanya untuk menempuh studi di Belanda.

Berinteraksi langsung dengan berbagai mahasiswa asing dari berbagai negara secara otomatis menghantarkan mahasiswa ke tengah-tengah komunitas global. Keberadaan di tengah-tengah komunitas global dapat membuat mahasiswa mengenal karakter dan budaya bangsa lain. Budaya Jerman, Perancis, China, dan negara lainnya dapat dipelajari tanpa perlu jauh-jauh melalang buana ke negara-negara tersebut, cukup dengan menjalani studi di Belanda.

Sebaliknya, mahasiswa asal Indonesia pun dapat memperkenalkan kekayaan budayanya kepada mahasiswa asing. Informasi tentang keragaman budaya yang di berikan pada akhirnya dapat berefek domino pada keinginan mereka untuk berkunjung ke Indonesia. Hal demikian tentu merupakan keuntungan tersendiri bagi Indonesia karena dapat menambah devisa negara.

Hal lain yang dapat dipetik oleh mahasiswa Indonesia dengan keberadaannya di tengah-tengah komunitas global adalah mahasiswa Indonesia dapat mengetahui solusi dari permasalahan sosial serta permasalahan ekonomi (misalkan: kemiskinan, pengangguran) dari mahasiswa asing. Hal tersebut dimungkinkan karena mahasiswa Indonesia dapat memperoleh informasi dari mahasiswa asing mengenai pengalaman mengatasi permasalahan sosial serta permasalahan ekonomi yang pernah dilakukan oleh negara lain. Ke depan, informasi tersebut dapat berguna dalam mengatasi permasalahan sosial dan ekonomi bangsa ini.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa studi ke Belanda adalah sesuatu yang menguntungkan. Selain kita dapat menjalin relasi dengan banyak orang dalam komunitas global, kita juga dapat memetik keuntungan yang kelak dapat berguna bagi bangsa ini dari keberadaan kita dalam komunitas global tersebut.

Sumber bacaan:

Http://www.gurumuda.com/, diakses tanggal 27 April 2009 Http://id.wikipedia.org/wiki/belanda, diakses tanggal 27 April 2009

http://www.nesoindonesia.com/, diakses tanggal 27 April 2009

Sumber gambar:

http://point-oh.com/wp-content/uploads/2007/10/amsterdam_canal450.jpg

Pamrih

Oleh: Tito Erland S

Keikhlasan dalam memberi, masihkah ada?, terutama dalam tubuh sebuah partai. Atau mungkin sudah langka?, tergerus logika bisnis, logika untung rugi. Memberi berubah menjadi sebuah pengharapan, pengharapan untuk mendapatkan perlakuan setimpal, sang penerima akan balik memberi dalam bentuk lain.

Tak hanya tak ikhlas, memberi pun menjadi riya, menjadi sebuah ajang pamer kedermawanan. Memberi pun menjadi punya arti strategis, meraih dukungan massa.

Saya teringat pada sebuah iklan politik sebuah partai yang mengabarkan pada khalayak tentang perilaku kederwanannya. Mengabarkan bahwa mereka sudah memberikan sumbangsih, memberikan bantuan terhadap yang terkena musibah. Memberi, dengan demikian dijadikan materi kampanye. Materi untuk meraih keuntungan. Memberi menjadi semacam logika kapitalis, menanam modal untuk mengharapkan mendapat sesuatu yang lebih, meskipun tak dalam bentuk uang. Tujuannya tentu jelas, tujuan sebuah kampanye, meraih dukungan massa yang pada akhirnya bertujuan untuk meraih kekuasaan.

Para penerima kedermawanan pun akhirnya menjadi obyek kampanye untuk menunjukan betapa pedulinya sang pemberi. Sang penerima tak lagi menjadi subyek harus diperlakukan selayaknya manusia, tapi menjadi alat untuk memuluskan jalan kepentingan sang pemberi.

Dosakah itu? Mungkin ya atau mungkin juga tidak. Saya tak tau, bagi saya seharusnya partai itu lebih tau karena mereka adalah partai yang mengaku-ngaku berdasarkan pada agama.

Saya hanya menilai bahwa itu tidak layak, tak pantas untuk dipentaskan di panggung politik. Tentu itu dari sudut etika politik. Bukan dalam politik rasional yang digambarkan Machiaveli, bahwa politik dan norma adalah dua hal yang terpisah. Atau jangan-jangan partai tersebut menerapkan politik rasional semacam demikian? Anda tentu bisa menilai sendiri.

Topeng

Oleh: Tito Erland S

Cerita I:

Topeng mungkin bukan hanya sekedar benda, tapi merupakan simbol. Topeng mungkin bukan hanya sekedar sarana permainan bocah-bocah, layaknya topeng spiderman yang terkadang terlihat di pakai mereka. Bukan hanya itu, mungkin, topeng adalah penutup ketidaksempurnaan.

Manusia memang tidak ada yang sempurna, no body perfect, meskipun ia adalah mahluk yang paling sempurna. Selalu saja ada “kecacatan” dalam dirinya, keborokan yang telah menyatu dalam kehidupannya. Kecacatan dan keborokan disini diartikan sebagai berbeda (kalau tidak mau dikatakan menyimpang) dengan konsep kebenaran versi khalayak, kebenaran dalam balutan paradigma modern. Itu mengapa banyak kalangan menilai manusia tak lepas dari dosa.

Ketidaksempurnaan itu yang membuat sebagian membalut wajahnya dengan topeng, atau mungkin lebih tepat membalut jiwanya dengan topeng, sekedar menampakan sosok sempurna pada dirinya. Dalam hal ini, hidup menjadi semacam panggung sandiwara, sebuah kepura-puraan.

Namaku adalah Santi. Umurku 22 tahun. Belakangan aku resah pada realitas yang terjadi di sekitarku. Sudah lama sebetulnya ada pangkal permasalahan ini, namun baru belakangan ini kusadari, membuatku bertanya pada diriku sendiri. Semua ini sebetulnya berkaitan dengan adikku. Namanya adalah Sari, umurnya baru 16 tahun, usia yang penuh dengan gelora. Sari mempuyai kekasih impian, kekasih yang dicintainya sepenuh hati, sang idola. Namun sang idola bukan hanya idola Sari namun idola khalayak, karena dia memang idola “sesungguhnya”, sang superstar. Sari sudah lama mengidolakan sang idola, sejak pertamakali perjumpaannya di layar kaca, itu satu tahun lalu. Sang idola memerankan peran sebagai pria idaman para wanita, pria yang baik hati, setia dan tampan.

Peran yang membuatnya digila-gilai para wanita. Tak hanya di dunia hiperealitas, namun dalam dunia nyata. Terlebih lagi dengan pengakuannya di berbagai media bahwa ia adalah seorang yang masih sendiri, tak punya kekasih, dan sedang mencari pendamping hidup, maka banyak wanita yang mengharapkan tetesan kasih sayang darinya. Semua itu kupercayai saja, sampai suatu saat.

Saat itu saat dimana di suatu siang yang terik, saat dimana aku sedang pergi ke pusat perbelanjaan di Singapur bersama seorang teman, aku melihatnya melintas tepat di depanku. Namun ia tak sendiri, bersama seorang wanita yang dirangkulnya mesra. Kuikuti mereka, sekedar ingin tahu. Temanku tak keberatan, ia ikut saja apa yang kulakukan. Sang idola tampak sesekali bercanda dengan wanita yang dirangkulnya, sesekali bahkan ia mencium kening sang wanita. Aku teringat baru beberapa hari lalu, ia menjawab masih saja sendiri, ketika ditanya oleh wartawan. Namun mengapa sekarang ia merangkul seorang wanita yang tampak bagiku seperti kekasihnya?

Pertanyaan itu menggangguku, namun belum kuceritakan pada siapapun, termasuk pada adikku, orang yang mengidolakannya. Beberapa hari paska kepulanganku dari Singapur, aku diajak oleh teman yang sama untuk berplesir ke Bali. Jangan heran, bersenang-senang adalah pekerjaanku sehari-hari, tak masalah toh aku orang kaya.

Di Bali aku menginap di sebuah hotel mewah. Di situ pulalah aku mengalami perjumpaan kedua kali dengan sang idola. Ia tampak bersama seorang wanita, namun bukan wanita yang waktu itu. Wanita ini tampak lebih seksi dari segi pakaiannya, ia memakai celana yang sangat pendek, dan bajunya sedikit terbuka, memperlihatkan belahan dada sang wanita.

Kamar sang idola ternyata bersebelahan dengan kamarku. Aku melihat mereka berdua berangkulan mesra, dan memasuki kamar sang idola secara bersamaan. Entahlah apa yang dikerjakannya di dalam, tapi aku punya dugaan layaknya dugaan kebanyakan orang jika berada dalam situasi ini.

Keesokan harinya, entah kebetulan atau kah takdir, aku berjumpa kembali dengan sang idola. Ia tampak sedang santai berjemur di pinggir pantai dengan sang wanita. Aku berusaha tak memperdulikan keadaan itu, tapi entah mungkin karena keingin tahuan ku yang besar, aku sesekali mencuri pandang ke arah mereka, dan pada pandangan ke lima aku melihat bibir mereka bercumbu mesra. Bibir pantai menjadi saksi bisu pertemuan kedua bibir mereka yang saling melumat.

Rangkaian pertemuanku dengan sang idola membuatku bertanya-tanya sampai saat ini, berdialog dengan diriku sendiri. Haruskah aku memberitahukan kejadian ini pada para idolanya atau paling tidak pada adikku? Haruskah ku buka topeng sang idola dan menunjukan keborokannya yang dapat menghancurkan reputasinya sekaligus menghancurkan impian para wanita yang mengharapkan cintanya? Haruskah kubiarkan ini, adikku terhanyut dalam bayang semu dalam keadaan mencinta? Haruskah pula kuhancurkan rangkaian cinta yang telah lama terukir indah di hati adikku dan merusak hari-harinya?

Cerita II:

Namaku adalah Bagas. Aku adalah sang idola. Aku digila-gilai banyak wanita. Aku sangat tampan, tubuhku atletis, terdapat lekukan-lekukan otot pada perutku yang menunjukan kelaki-lakianku.

Pada media, aku mengaku tak punya kekasih dan berkata sedang mencari. Tapi itu bohong. Aku hanya berpura-pura. Aku memakai topeng dalam menjalani kehidupanku, agar para wanita yang mengidolakanku tak lari. Sebetulnya aku mempunyai banyak kekasih. Jumlahnya tiga orang. Mereka tak saling mengenal, aku pandai mengatur jadwal, dan mereka mau mengerti atas latar belakang pengakuan ku pada media bahwa aku tak memiliki kekasih. Dan entah karena keberuntungan atau apapun itu, aku tak pernah kepergok media.

Hidupku sangat bahagia dibalut kasih ketiga wanita itu. Setiap ada kesempatan aku berusaha bercinta dengan salah satu dari mereka. Bercinta dalam arti yang sempit, melakukan hubungan badan. Aku sangat menikmatinya. Menikmati setiap sentuhan mereka, menikmati setiap aroma tubuh mereka.

Hidupku berjalan lancar. Sampai suatu hari mimpi itu datang. Mimpi tentang perihal yang kulakukan adalah suatu kesalahan dan harus disudahi. Tak hanya sekali mimpi itu datang, kerap kali mimpi itu datang mengganggu tidurku sampai saat ini. Aku jadi tak tenang dan mulai berpikir tentang tindakannku itu.

Beberapa hari ini tak kutemui salah satu dari ketiga kekasihku. Mereka mencoba menghubungiku tapi kuacuhkan. Aku sedang sibuk. Sibuk merenungi diri. Apakah ini akibat kesalahanku? Namun apakah yang kulakukan itu suatu kesalahan? Haruskah ku sudahi ini dan memberitahukan pada ketiga kekasihku tentang hal yang sebenarnya? Tapi bukankah itu berarti menghancurkan reputasiku karena bisa saja salah satu dari mereka membocorkan ke media? Tak hanya itu, bukankah itu berarti menghancurkan rangkaian cinta yang telah terukir indah dalam hati ketiga kekasihku dan merusak hari-harinya? Bukankah itu pula berarti menghancurkan rangkaian cinta yang telah terukir indah dalam hati para idolaku dan merusak hari-hari mereka? Haruskah?

Berkarya dengan Kebebasan Mutlak

Oleh: Tito Erland S

“Terkadang terlalu banyak menoleh membuat kita lemah”

Karya adalah bukti, wujud dari keberadaan manusia. Keberadaan manusia salah satunya dinilai dari produktivitas karyanya, seberapa berapa berkualitaskah karyanya itu dan seberapa banyakkah karyanya itu. Eksistensi manusia hadir lewat hasil produktivitasnya, begitu kata Nietzsche.

Namun terkadang selayaknya manusia, sang pengkarya takut dan khawatir terhadap suatu hal. Takut dan khawatir terhadap hegemoni yang diciptakan negara maupun hegemoni yang dikembangkan masyarakat. Persoalannya menjadi mana yang boleh dan mana yang tidak, mana yang layak dan mana yang tidak.

Hal demikian tentu berkaitan dengan interpretasi, suatu pemaknaan terhadap suatu karya. Tentu interpretasi adalah suatu yang sah dan penting. Namun terkadang interpretasi itu berubah menjadi apriori membabi buta. Tak ada pemahaman mendalam dalam mencerna suatu karya, yang ada hanya stigma, pandangan ideologis, dan prasangka buruk.

Terkadang prasangka-prasangka buruk itu sampai ketelinga sang pengkarya dan terkadang pula membuatnya takut maupun malas berkarya lagi, atau paling tidak merubah orisanilitas karyanya menjadi karya yang sesuai selera khalayak. Sungguh sangat disayangkan jika demikian, maka mungkin peradaban tak berjalan atau berjalan lambat. Untung di dunia ini ada pengkarya-pengkarya yang mau menentang arus, menentang kebenaran yang ada saat mereka berkarya. Mereka mungkin dapat disebut pejuang, pejuang kebenaran versi baru, pendobrak kemapanan, penghancur monokultur.

Saya pun terkadang diliputi kekhwatiran tentang interpretasi orang terhadap karya saya. Saya kadang pun khawatir atas interpretasi orang terdekat saya terhadap karya saya. Terkadang saya khawatir ketika saya menulis cerpen yang menceritakan tentang percintaan, maka orang terdekat saya menduga saya sedang jatuh cinta, padahal itu hanyalah sebuah karya fiksi, yang tak mencerminkan realitas yang sedang saya alami.

Saya mungkin mulai sedikit mengerti, bahwa berkarya seharusnya bebas, bebas dari kekhawatiran, bebas dari ketakutan, bebas dari sensor tajam ideologis. Mungkin yang demikian menjadikan saya atau pengkarya lain dapat menjadi absurd. Namun tak apalah, seperti kata Albert Camus, manusia absurd itu adalah ternyata adalah manusia dengan kebebasan mutlak.

Kebebasan adalah surga, surga untuk berkarya. Dengan kebebasan maka lahirlah banyak karya yang di dalamnya terdapat pemikiran mendalam yang dapat merubah dunia. Dengan kebebasan lahirlah karya Nietzsche, Pramoedya Ananta Toer, dan lainnya, pengkarya yang menantang jamannya. Pengkarya yang bias jadi bagi sebagian orang pada jaman itu dianggap absurd, nyeleneh, seperti yang dilayangkan pada Nietzsche. Namun apa yang dianggap keabsurdan kala itu justru sangat dihargai di kemudian hari. Lalu apakah saya manusia absurd? Entahlah, saya hanya ingin berkarya dengan kebebasan mutlak.

Dinamis

Oleh: Tito Erland S

Materi bergerak, tak diam. Selalu ada perubahan di dalamnya, kalaupun diam ia hanya menunggu untuk berubah, menunggu saat berevolusi. Demikian pula dengan manusia, selalu ada perubahan mengiringi perjalanan kehidupan seorang manusia.

Dengan begitu ilmu hitung menghitung tak selalu tepat mengkalkulasikan manusia. Hipotesis kuantitatif tak lagi mendapat kursi utama.

Manusia adalah mahluk dinamis. Seringkali ada dialektika dalam pemikiran seorang manusia. Maka tak heran jika kebenaran hari ini bagi seorang manusia dapat berubah suatu ketika. Kebenaran pun jadi tak absolut. Berkembang seiring jaman, seiring dialetika dari para intelektual, manusia yang berpikir.

Dengan begitu peradaban menjadi berkembang. Bayangkan jikalau semua manusia adalah mahluk yang stagnan secara pemikiran, maka mungkin kita tidak mengenal mazhab Frankfurt, hasil perkembangan dari marxisme. Kita pun mungkin tak kan mengenal posmoderenisme yang mempertanyakan rasionalitas modern, menggugat kebenaran tunggal.

Dengan kedinamisan manusia, maka lahirlah ilmu-ilmu pengetahuan yang berguna bagi alam dan manusia. Berawal dari filsafat, dan kemudian dipertanyakan sehingga menghasilkan sesuatu yang baru.

Saya teringat perbincangan dengan seorang teman ketika membahas seorang tokoh. Saya tanyakan pada dia, termasuk dalam ranah manakah pemikiran sang tokoh. Teman saya menjawab, bahwa sang tokoh tak ingin diklasifikasikan demikian. Saya kemudian mengerti, bahwa sang tokoh tentu mempunyai kecerendungan pemikiran, mempunyai pandangan tentang kehidupan, namun ia tak ideologis. Artinya sang tokoh mungkin tak ingin diklasifikasikan termasuk kiri atau kanan, positivisme atau non positivisme. Ia adalah gabungan dari berbagai pemikiran, dari berbagai paradigma, yang kemudian dia leburkan menjadi jalan pikirannya, caranya memandang hidup. Di situlah sisi dinamis sang tokoh, ia tak stagnan, tak terbalut selubung ideologis.

Tentu saya tak menggugat para manusia yang mempunyai pemikiran ideologis, bagaimanapun juga itu adalah hak. Hak untuk berpikir merdeka, dalam hal ini lebih berarti merdeka untuk berideologi atau pun tidak.

Lalu apakah saya berideologi? Entahlah anda ingin mengetahuinya atau tidak, tapi jawaban saya tidak. Saya lebih suka berpikir menurut kehendak saya, menurut nalar saya, menurut rasionalitas saya. Jadi tak heran suatu ketika saya menulis secara serius, suatu ketika saya menulis dengan gaya asal, tak tertata. Apakah saya labil? Entah, saya lebih suka menyebut diri saya dinamis.

Seorang teman pernah berkata saya sedang mengalami pencarian jati dari, tak punya ideologi atau paling tidak, tidak ada kebenaran kaku dalam pikiran saya. Mungkin saja saya begitu, karena bagi saya materi selalu bergerak, kebenaran berkejar-kejaran dengan waktu sehingga menjadi wajar saya mengikuti yang lebih benar hari ini atau kebenaran di kemudian hari. Dengan begitu kebenaran kaku tak ada, atau mungkin ada sedikit saja dalam kepala saya. Selebihnya saya adalah perubahan, mengikuti tuntutan jaman dengan tak menjadi pengekor. Selebihnya saya adalah manusia yang mempertanyakan kebenaran kaku itu, kebenaran yang melanggengkan ideologi. Bukankah lebih baik begitu, menjadi manusia dinamis daripada mengalami stagnasi dengan kebenaran yang bisa jadi sudah usang?

Gaya Baru

oleh: Tito Erland S
Ada yang beda dari saya. Apanya? Gaya tulisannya. Ya biasanya saya suka nulis yang serius-serius, walaupun bukan narasi besar tapi tetap aja serius. Atau saya juga juga suka nulis yang rada puitis karena dasarnya saya emang puitis. Tapi saya mau coba sesuatu yang beda, tulisan gaya kayak gini, gaya santai, gaya gak serius. Cobalah tengok dua tulisan saya sebelumnya yang berjudul Cerita Saya Beberapa Hari Lalu dan Pacar Saya KKN, di situ saya coba bereksperimen dengan gaya tulisan model kayak gini. Hasilnya? Silahkan nilai sendiri. Tulisan saya bisa kayak gini terinspirasi dari tulisan-tulisan Pidi Baiq. Asli waktu saya baca buku dia secara sekilas yang judulnya Drunken Monster saya cuma sekedar tertawa biasa, tapi waktu saya baca kedua kali saya baru bisa nangkep makna bahwa terkadang hidup ga perlu terlalu dibawa serius, santai aja lah bro, yang penting bertanggung jawab. Iya bener juga saya pikir, toh saya bukan presiden jadi sementara waktu saya berhenti dulu mikirin negara, saya mau mikirin diri saya sendiri aja dulu, bertanggung jawab pada diri saya dan pada orang tua saya. Mikirin negaranya ntar-ntar aja kalau saya udah mau jadi presiden. Makanya nanti kalau saya mau jadi presiden, pilih saya ya, jangan lupa, saya janji deh bakal bikin sistem kepemilikan yang adil, biar ga ada lagi monopoli, biar petani punya tanah, biar buruh sejahtera, biar semua bisa makan. Tapi itu nanti, beberapa tahun lagi, tunggu saya punya duit biar bisa nyalon. Oh iya balik lagi ke masalah tulisan saya, saya sekarang cenderung nulis yang santai-santai aja, keseharian saya, meskipun terkadang bakal ada tulisan-tulisan serius saya. So enjoy aja, silahkan menikmati tulisan gaya baru saya.

Pacar Saya KKN

oleh : Tito Erland S
Malam, 26 Januari 2009. Besok pacar saya KKN. Berangkat pagi-pagi dia, jam tujuh mungkin dari LPM. Tadi saya sudah berkunjung ke kosan nya. Mengucapkan selamat KKN karena besok saya tidak dapat mengantar dia ke LPM karena dia sudah dijemput temannya dan karena saya agak sedikit malas mengantar ^_^. Saya bilang ke dia, saya bakal kangen kamu. Iya Nda juga, katanya. Seharian tadi banyak waktu kita habiskan berdua, makan bareng, ngobrol bareng, cari sandal bareng, dan ngenet bareng. Semuanya dilakukan seolah sebagai penawar rasa kangen karena akan berpisah cukup lama. Pukul sembilan lewat saya pamit pulang. I love u, kata saya. Dia pun mengucapkan kalimat yang sama. Hati-hati sayang, kata saya dalam hati, jaga dirimu dan jaga hatimu. Saya pun lalu pulang menyusuri kepekatan malam yang menyelimuti bumi dengan begitu indahnya kala itu.

Cerita Saya Beberapa Hari Yang Lalu

oleh: Tito Erland S
Beberapa hari yang lalu saya sempat sakit. Tapi sekarang udah sembuh. Sakit apa? Tak perlu disebutkan disini, takut orang rumah pada khawatir sama saya kalau baca tulisan ini. Yang jelas saya panas enam hari. Perut saya melililit kurang lebih enam hari juga. Sebetulnya pada hari ketiga saya sudah berkunjung ke tampat dokter. Dikasihlah obat sama dia, tapi belum sembuh, akhirnya saya ke dokter lainnya pada hari ke lima, dikasih obat baru dan saya beranjak sembuh. Hari ketujuh tinggal badan lemas-lemas aja. Dan berlangsung sampai beberapa hari kemudian, hingga saya benar-benar fit sekarang. Untunglah selama saya sakit ada yang merawat saya. Siapa dia? Pacar saya. Dia yang membawakan saya makanan, mengingat saya tidak bisa berjalan terlalu jauh saat sakit karena badan lemas banget. Saya juga dimasakin bubur sama dia, dan enak, ga nyangka juga ternyata pacar saya bisa masak bubur ^_^. Di saat seperti saya rasanya makin sayang sama dia, makin tak mau kehilangan dia. “Untung ada kamu sayang”, kata saya. Tak cuma itu, pacar saya juga jago mijit. Mijit? Iya mijit, mijit yang pada tempatnya, karena kepala saya yang pusing maka yang dipijit juga kepala saya. Senangnya saya diperlakukan seperti itu. Terlebih lagi pacar saya juga suka membuat saya tertawa, entah dia yang melucu, atau saya yang meledek dia, tapi yang jelas tertawa membantu menyehatkan badan saya. Iya karena saya percaya di dalam pikiran yang sehat terdapat tubuh yang sehat atau mungkin didalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, ya semacam itulah. Sekarang saya sudah sehat dan akan selalu sehat. Iya harus percaya diri. Cuma saya ada pantangan, ga boleh terlalu capek, dan ga boleh makan pedas selama beberapa tempo. Ya terpaksa beberapa hari lalu kalau saya makan bakso ga pake saos atau sambal, bahkan sampe-sampe makan ekstra pedas (lumpia goreng) ga pake sambel. Ah rasanya ada yang beda kalau ga bisa makan pedas, tapi tak apalah yang penting saya sehat selalu.

Renungan dalam Kesendirian

Oleh: Tito Erland S

Sendiri. Kesendirian. Saat dimana hanya ada engkau dan keheningan. Saat bijak untuk berpikir. Saat dimana engkau bisa merenung mendalam, merenung dengan aroma kebebasan.

Bebas. Manusia dikutuk dengan kebebasannya, begitu kata Sartre. Kebebasan untuk berpikir, kebebasan untuk berkehendak, karena manusia adalah être-pour-soi, mampu menentukan esensinya sendiri.

Kesendirian dan kebebasan. Dua kata yang seolah dapat melebur menjadi satu, menjadi keidentikan. Dalam kesendirian terdapat kebebasan. Engkau dapat bebas bertanya tentang segala sesuatu, tanpa harus takut pada daya magis hegemoni, tanpa harus takut terkena tongkat bambu represi pemikiran. Apapun bebas kau lontarkan, tanpa perlu takut, karena kau berdialog dengan dirimu sendiri, dengan kebijakanmu sendiri.

Engkau bebas mempertanyakan yang kau yakini selama ini. Mungkin saja salah. Mungkin saja jika ada hal yang kau perjuangkan itu adalah suatu kesia-siaan. Mungkin saja jika kau mencita-citakan revolusi, itu hanyalah revolusi kekanak-kanakan.

Bertanyalah. Mengapa mesti takut. Kau tidak akan dipersalahkan siapapun. Karena kau sendiri, tak ada yang lain disekitarmu. Bertanyalah. Bertanyalah. Karena jika yang kau yakini adalah benar, kau tak perlu takut untuk mempertanyakannya, sebab kebenaran tetaplah kebenaran walau dihujami berjuta keraguan.

Puisi tentang Laut

Malam hari, saat bintang gemintang mulai mengerlingkan sinarnya

Oleh: Tito Erland S

Malam hari, saat bintang gemintang mulai mengerlingkan sinarnya pada manusia-manusia bumi, aku terduduk sendirian di pinggir pantai. Malam yang tak begitu gelap karena sang bulan menemani kesendirianku dengan sinar penuhnya. Pada hamparan pasir pantai, kogeraskan jari jemariku membentuk suatu lukisan. Namun air pasang dan deburan ombak segera menerjang hasil karya itu. Meluluhlantahkannya sehingga kemudian tak berbentuk.

Aku terdiam melihat semuanya, menyesali keadaan yang mengharu birukan hati. Tak berlebih, karena bagiku setiap karya terbuat dari seuntai jiwa yang terolah.

Kucoba kembali melukiskan hal yang sama, tapi kemudian sang ombak pun kembali lagi, seakan menantang dengan segala keangkuhannya. Ataukah sebenarnya ini adalah kebodohanku, yang congkak menantang alam, berharap sang laut mau menyapa hangat buah jiwaku. Harapan yang sesungguhnya timbul sebab laut pernah melakukannya, menyapa hangat lukisanku saat ia tenang. Namun laut kini berbeda. Ia seolah membenciku dan karyaku. Aku ingin semua seperti dulu. Tapi entahlah apa itu dapat mewujud kembali. Kini ku hanya termenung, sendirian dalam keautisanku.

Cerpen tentang Oposisi Biner

Kau salah-kau benar, kau tampan-kau jelek, kau modern-kau tradi

Oleh: Tito Erland S

Kau salah-kau benar, kau tampan-kau jelek, kau modern-kau tradisonal, kau modis-kau kuno. Oposisi biner itu terus mengelayut dikepalaku, menusuk-nusuk saraf otak. Muak jadi dibuatnya.

Sejak dahulu aku dan para manusia lainnya dijejali dengan sampah demikian. Dijadikan robot yang tak dapat berpikir sendiri dan hanya menerima titah-titah suci dari sang tuan. Tak menjadi soal ketika aku masih kanak-kanak, namun kini aku telah dewasa, dapat berpikir sendiri, dapat menentukan mana yang baik untukku dan mana yang tidak, tetapi tetap saja petuah moralitas itu selalu menghujami tubuhku, menggangu eksistensi pribadiku.

“Gus, keluar dong jangan dikamar mulu, ga baik”, panggil seorang teman.

Ah, sial, batinku. Apa urusan dia jika aku sering berdiam di kamar. Tahu apa dia tentang apa yang kukerjakan sehingga kemudian merasa pantas menilai mana yang baik untuk ku. Ku diamkan saja panggilan temanku itu. Aku lebih memilih melanjutkan khyalanku tentang oposisi biner.

Oposisi biner, ya oposisi biner, seperti yang dilakukan temanku, membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, bahkan kemudian mencampuri eksitensi pribadi. Padahal bagiku manusia dewasa layak mempertanyakan ulang perihal kebenaran. Manusia dewasa layak mempertanyakan ulang tentang mitos kecantikan dan ketampanan, tentang yang modern dan tidak, dan segala hal lainnya. Karena manusia dewasa sudah dapat berpikir menggunakan akalnya sehingga kemudian dapat menentukan jalannya sendiri. Karena segala sesuatu yang tampak baik dan buruk hari ini adalah jalinan makna yang dibentuk dalam suatu “perbincangan”, di mana didalamnya terdapat hukum “siapa yang berkuasa dia yang menentukan”

Sangat pantas ketika seorang individu menghancurkan pembeda baik-buruk dalam konteks universal. Sangat pantas ketika seorang individu menciptakan baik-buruk versinya sendiri dengan satu catatan penting tak menggangu eksistensi lainnya.

“Bagus, keluar dong, masa cowok di kamar mulu”, panggil temanku yang rupanya belum menyerah.

“Suka-suka gue kali”, ku jawab itu dengan keras, mengakhiri usahanya membujukku untuk keluar.

Seni dan Sastra

Oleh: Tito Erland S

i suatu malam, saya mengikuti suatu diskusi. Tak disengaja, karena kedatangan saya lebih karena panggilan seorang teman. Setelah di ikuti, ternyata cukup menarik. Temanya tentang sastra dan membahas seorang pengarang.

“Seni adalah untuk keberpihakan”, kata salah satu peserta disukusi. Seni di sini tentu merujuk pula pada sastra.

Pada titik tertentu saya sepakat, pikir saya.

Dia melanjutkan.

“Seni harus di angkat dari realitas sosial”.

Apakah harus seperti itu, pikiran saya mulai memberontak. Lalu bagaimana seandainya saya mau membuat cerita kalau saya bisa terbang? Tidakah itu karya seni juga.

Dia tak mendengar pikiran saya dan terus melanjutkan.

“Seni tak mengapa mengangkat kehidupan privat, semisal cinta, tapi tak pantas di publikan, karena itu masalah privat bukan perkara publik”

Ah, saya mau membantah, tapi nanti saja, masih bingung merangkai kata yang tepat.

Akhirnya peserta lain menanggapi.

“Jadi persolannya adalah industrialisasi terhadap karya yang mengangkat kehidupan publik?”

Yang di debat pun menjawab.

“Bukan tapi persolan privat yang di publikan”.

Diskusi berlanjut. Teman yang satu itu masih tetap dalam pendiriannya, dan saya masih tetap dalam keberdiaman. Diskusi pun melayang pada suatu cerita bahwa seni yang mengangkat kehidupan pribadi ternyata dapat mempengaruhi perilaku. Diceritakan ada penelitian yang menyebutkan, sebagian pelaku bunuh diri mendengarkan lagu putus cinta atau kesedihan sebelum melakukan aksinya. Ada beberapa peserta lain yang menanggapi komentar, dan bola diskusi pun semakin bergulir melindas sub tema kecil lainnya yang terkait. Akhirnya saya pun ikut nimbrung di tengah perbincangan.

“Bagi saya seni adalah kebebasan. Tak harus satu. Tak harus seni itu untuk keberpihakan. Seni itu bebas”. Mungkin terdengar sederhana, tapi itu yang saya yakini.

Saya melanjutkan menanggapi perihal seni yang mempengaruhi perilaku.

“Tak selamanya manusia ditentukan oleh struktur. Manusia mempunyai nalar yang dapat mencerna makna yang terkandung dalam seni. Tidak dapat disimpulkan deterministik seperti itu, bahwa sebagian seni “menentukan” pengaruh buruk pada perilaku. Manusia dapat berpikir dan memilah-milah tindakannya termasuk menikmati dan memaknai suatu karya seni.”

Diskusi berlanjut. Sampai pada akhirnya tak ada suatu kesimpulan karena tiap peserta mempunyai keunikan cara pikir sendiri. Sekitar pukul 00.30 kami membubarkan diri.

Sepeda Motor

Oleh: Tito Erland S

Rasa kaget belumlah hilang, kemudian menjadi bertumpuk ketika menyaksikan reaksi seorang teman. Tubuhnya seolah terpental di terpa terjangan gelombang udara yang merambat dari laju kencang sepeda motor.

“Jantung gw rada lemah To”, kata dia menjelaskan reaksi tadi.

Oh begitu, batin saya.

Lembaran cerita dibuka ketika saya dan seorang teman sedang duduk santai di sebuah bangku panjang, terbuat dari kayu dan sengaja di letakan di muka sebuah warung makan. Saat itu kami sedang menunggu teman lain datang, mau ada rapat katanya, namun tepat pukul 20.30 yang ditunggu belum pula datang. Pun begitu, kami setia menunggu sembari ngarol ngidul bercakap, mengisi kosongnya waktu. Di tengah hangatnya perbincangan, kami melihat sepeda motor yang dilaju dengan kencang dari arah pertigaan lampu merah. Dia memacu gasnya sehingga mengeluarkan kebisingan yang memekakan, membuat saya terkaget dan begitu pula dengan teman saya.

***

Tak sekali, entah sudah kian kali keberapa mata ini menyaksikan tingkah polah serupa. Bak seorang raja, pengendara memacu motornya dengan kecepatan tinggi, seolah jalan miliknya pribadi. Hal tersebut tampaknya sudah menjadi tren pada sebagian kalangan. Pertanyaan muncul di benak saya, mengapa yang demikian dapat terjadi?

Saya pun mencoba meraba-raba mencari jawaban. Asumsi pertama saya adalah pengaruh media. Tayangan media terkadang dapat memberi pengaruh terhadap perilaku. Masih segar dalam ingatan ketika menyaksikan tayangan berita perihal anak kecil yang terluka, tak sengaja dibuat saat mengikuti adegan tayangan gulat yang sempat semarak. Tak hanya satu, tapi beberapa. Menandakan begitu kuat hegemoni media terhadap perilaku manusia. Akhirnya setelah protes muncul, tayangan pun terhenti. Orang tua pun lega, tak terlalu khawatir sang anak akan mengikuti kesalahan “temannya”. Itu hanya satu contoh, yang menggambarkan betapa kuat media membentuk tingkah polah manusia. Di tangannya, hiperealitas yang tersajikan dapat berubah menjadi realitas ketika sampai di wilayah penonton. Yang berlebihan di ikuti karena merasa suatu kenyataaan.

Bisa pula demikian halnya ketika para pengendara yang ngebut terpengaruh media. Sinetron dan film yang menampilkan cerita tentang kebut-kebutan dapat membawa persepsi bahwa yang demikian merupakan sesuatu yang mengasyikan dan mungkin pula sesuatu yang keren. Padahal adegan tersebut tentu dilakukan oleh orang yang sudah ahli dan dipersiapkan semaksimal mungkin agar tak melukai dirinya maupun orang lain. Namun tampak seolah nyata, dan dapat memberi pengaruh pada penontonnya sehingga kemudian mengikutinya.

Begitu pula dengan iklan. Para pengusaha sepeda motor mencoba memasarkan produknya melalui iklan, dimana ditampilkan bahwa produknya dijamin dapat melaju kencang. Pemasaran dengan visualisasi demikian merupakan strategi para pemilik kapital untuk meningkatkan nilai tambah, menjadikan komoditas tanda makin gencar. Pun demikian hal tersebut membawa efek pada konstruksi budaya dimana seperti sinetron dan film, pengendara yang melaju motornya dengan kencang adalah sesuatu hal yang keren dan yang demikian dapat terikuti oleh para audien “pasif”.

Namun tak semua demikian. Tak semua pengendara yang ngebut karena terpengaruh media. Mengutip kata seorang teman “manusia bukanlah matematika”, artinya kurang lebih manusia tak dapat disama ratakan seperti bilangan-bilangan, karena manusia adalah heterogen.

Hal tersebut terkait dengan konsep audien aktif dimana mereka ditempatkan sebagai pencipta makna yang aktif dan memiliki cakrawala pengetahuan yang terbuka lebar, sehingga tak menjadi korban dari teks yang distrukturkan. Artinya audien aktif mengerti perbedaaan tayangan “fiksi” atau tidak. Dengan demikian perilaku ngebut dijalanan, salah satunya karena pilihan rasional dari seorang individu tanpa embel-embel hegemoni media.

Lalu dari mana perilaku itu muncul selain dari pengaruh media? Yang demikian terkait salah satunya dengan persoalan penerimaan sosial. Seorang anak muda yang ingin diterima di suatu komunitas akan berusaha mengikuti pola budaya yang sudah terbentuk di komunitas itu. Begitu pun dengan seseorang yang ingin bergabung dengan komunitas motor yang suka ngebut (dikatakan demikian karena tak semua komunitas motor mempunyai perilaku ngebut), dia akan secara sadar mengikuti kebiasaan yang sudah ada, termasuk mengebut, agar dapat diterima. Rasa penerimaaan, solidaritas, dan citra “keren” membuat seseorang akan mengikuti komunitas seperti itu.

Aparatus Moralitas

Perilaku mengebut di jalan senyatanya menggangu orang lain. Tak jauh, saya misalnya yang terganggu oleh bisingnya suara yang dikeluarkan dari knalpot yang digeber. Belum lagi potensi kecelakaan yang dapat membawa orang lain ikut di dalamnya. Perilaku tersebut menggangu kenyamanan masyarakat.

Menjadi pertanyaan besar, ketika perilaku yang merugikan tersebut tetap eksis sampai saat ini, apakah ada yang salah dari peran “lembaga” yang dianggap sebagai pembawa pesan-pesan moral agar tak merugikan orang lain? Keluarga dan lembaga pendidikan adalah lembaga yang sedikit banyak “ditugasi” untuk memberi pemahaman pada anggotanya tentang perihal tak layak merugikan orang lain. Ketika pada kenyataannya perilaku mengebut di jalan masih tetap ada sampai saat ini, membuktikan sedikit banyak ada peran-peran yang gagal diterapkan pada kedua lembaga tersebut.

Hal ini perlu di benahi, agar tak lagi ada perilaku tersebut. Selain tentunya peran polisi yang harus lebih aktif lagi menjaga ketertiban masyarakat, mengingat “lembaga” tersebut digaji untuk melakukan yang demikian.

Referensi:

Chris Barker. 2005, Cultural Studies; Teori dan Praktik, Kreasi Wacana: Yogyakarta.

Cinta

Oleh: Tito Erland S

Kita jatuh cinta, itu biasa saja…

(“Jatuh Cinta itu Biasa Saja”,

Efek Rumah Kaca)

Hati telah jatuh pada sosok idaman. Begitu menggebu-gebu rasanya. Seakan ada namanya pada setiap nafas yang terhembus. Siang malam terlewat tanpa melewati bayangnya, berusaha mencari celah di lubuknya untuk kemudian memenuhinya. Pancaran wajahnya telah menguasai diri, membuat seakan mampu melakukan segala sesuatu untuk menampakan bukti cinta.

Begitu mungkin rasa jatuh cinta. Penuh gelora, seakan ada api membakar jiwa, pil yang menerbangkan khayal, serta tak luput kehadiran sinar yang membutakan mata. Jatuh cinta terasa begitu indah, tak heran sebagian berharap ketika dirinya mengalami hal demikian akan abadi selamanya, layaknya edelewis yang tak mudah digapai namun tak pernah layu.

Hari-hari terasa begitu indah, menjadi milik berdua, saat sepasang hati insan sudah bertemu. Hari terlewati dalam posisi bercinta. Eluhan nafas, sentuhan lembut, tatapan mesra, kata manis, gurauan penghibur, dan sejuta representasi cinta terwujud dari tempat terdalam lubuk hati.

Semua berjalan layaknya sudah sempurna atau memang demikian adanya, sudah sempurna. Namun akankah kesemuanya mampu melewati ujian waktu, berjalan beriringan selamanya? Mampu mengatasi perbedaan dan membawanya dalam ranah keabadian?

Tak selalu. Perceraian, putus cinta, adalah realitas yang kerap kali ditampakan dalam infotainment, terkomodifikasi menjadi hiper realitas dalam karya estetis tayangan sinetron, bahkan terwujud dalam reality show yang terkadang lebih tepat disebut hyper reality show.

Tak jauh, di sekitar kita atau mungkin kita sendiri pernah mengalami itu. Perceraian maupun putus cinta membuat manusia mengalami keterpisahan. Cinta yang terbangun menjadi hancur berkeping-keping, bahkan tak tersisa. Bagi sebagian, putus cinta maupun perceraian justru wujud dari rasa cinta mendalam, suatu “kearifan” yang sampai saat ini belum saya mengerti.

Mengertinya saya, bahwa keterpisahan hubungan cinta salah satunya diakibatkan kedua insan yang tak mau memahami. Kecilnya permasalahan bisa menjadi besar dengan ego yang ditinggikan. Kejenuhan dan jatuh hati pada yang lainnya juga menjadi penyebab retaknya suatu relasi cinta. Maka wajar ketika Fromm mengatakan “pengalaman jatuh cinta memang sangat mempesonakan dan terasa sangat mendalam, namun makin lama perasaan ini makin dangkal hingga akhirnya berubah menjadi keinginan untuk kembali mendapatkan cinta yang baru, dengan ilusi bahwa cinta yang baru akan berbeda dengan cinta yang sebelumnya”.

Saya pun teringat perkataan seorang teman, bahwa makin lama cinta akan memudar. Teman lain berkata, bahwa setelah menikah cinta semakin menyurut, bahkan dapat hilang, yang tersisa menjadi perekat adalah keberadaan anak. Benarkah? Bisa jadi, namun tak bisa digeneralisir, karena manusia bukan benda yang dapat disamaratakan.

Kenyataan demikian momok bagi sebagian, untuk itu manusia perlu berada pada keadaan tetap berada dalam cinta (standing in love) yang dapat menjadi solusi atas sensasi menggebu-gebu dari falling in love. Standing in love manjadi penting mengatasi sifat kepudaran falling in love. Untuk menjadi demikian maka perlu ada aktifitas saling memberi dan menerima, menghargai, dan yang tak kalah penting adalah tanggung jawab. Kita tak “baik” begitu saja masuk kehidupan seorang manusia, membuainya, lalu meninggalkannya karena mengalami kejenuhan atau lainnya. Ada tanggung jawab dalam cinta yang jika dilaksanakan akan mempertahankan keutuhannya.

Dalam kehidupan nyata saya tahu salah satu contohnya , salah seorang juara dalam urusan standing in love, dialah kekasih saya. Di dadanya cinta itu di simpan rapat, dipertahankan semampu mungkin meskipun aral melintang menghalangi jalan kami. Dia masih dapat berdiri tegak ketika saya hampir terjatuh oleh terpaaan angin badai. Darinya saya belajar, bahwa jika seorang insan harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya, termasuk bertanggung jawab telah memasuki kehidupan seseorang dan “membuat“ cinta tumbuh dalam hati seseorang itu. Ah, jika saja ada kontes standing in love, saya akan mendaftarkan kekasih saya sebagai kandidatnya.

Referensi:

Erich Fromm, The Art of Love (Gaya Seni Bercinta), Pradipta Publishing.

Kebenaran?

Oleh: Tito Erland S

Krik..krik.. Suara jangkrik terdengar begitu merdu. Mengiringi obrolan dua orang kawan, Badu dan Rudi. Saat itu mereka berdua sedang bersantai di serambi depan rumah Rudi, menikmati secangkir kopi hangat seraya menikmati udara malam. Mereka membincangkan sesuatu yang tak begitu jelas, keabsurdan, tentang kebenaran.

Badu: Rud, kau tahu apa kebenaran itu?

Rudi: Kebenaran adalah putih lawan dari hitam

Badu: Semutlak itu?

Rudi: Ya

Badu: Tak adakah ungu, hijau, merah atau biru di dalamnya?

Rudi: Sudah kukatakan

Badu: Bagiku sebaliknya

Rudi: Mengapa demikian?

Badu: Karena kebenaran di satu tempat berbeda dengan ditempat lain, kebenaran di suatu waktu juga berbeda dengan waktu lain. Kebenaran terikat ruang dan waktu. Kebenaran adalah relatif. Contohnya telanjang dada di pantai pada sebagian negara bukanlah sesuatu yang salah, berbeda dengan negara lain yang menyalahkannnya, menganggapnya tak bermoral

Rudi: Itu hanya adat istiadat

Badu: Ya, adat istiadat yang memberikan makna yang berbeda-beda pada kebenaran

Rudi: Hmm.. Bagiku kebenaran adalah mutlak, harus murni, tak terjamah oleh otak nakal yang menghancurkannya. Itu semua untuk keteraturan. Contohnya manusia tak boleh berboohong, maka itu harus dipatuhinya

Badu: Oo.. Tak juga menurutku. Itu semua tergantung pemaknaan individu maupun masyarakat. Itu bukanlah sesuatu yang mutlak. Terkadang berbohong itu baik, begini contohnya, jika ada seorang teman yang datang kerumahmu dan berkata dia akan dibunuh oleh orang yang sedang mengejarnya, untuk itu dia sembunyi di dalam rumahmu. Lalu ada tiga orang pria yang datang menanyakan keberadaan temanmu, orang yang mereka cari, apakah kau akan memberi tahunya? Aku pikir tidak, kau akan berbohong mengatakan tidak tahu, di situlah letak bahwa kebenaran relatif. Pada titik itu kebenaran sudah dimaknai melalui kearifan individu

Rudi: Kalau kebenaran itu relatif, bagaimana dengan nasib keteraturan?

Badu: Pada kesepakatan bersama dalam lokus tertentu, bukan secara universal, untuk itu tentu dibutuhkan kearifan. Karena pada dasarnya setiap manusia mempunyai rasionalitas untuk mendefinisikan kebenaran

Rudi: Kearifan?

Badu: Kearifan, bahwa tak boleh mencubit jika tak ingin dicubit

Rudi: Bukankah selama ini begitu? Kebenaran dibuat melalui perwakilan masyarakat?

Badu: Tak juga, nilai kebenaran yang dipakai adalah kebenaran versi penguasa, penuh dengan otoritas kebenaran mutlak. Orientasi seks tertentu yang tak umum, masih dianggap menyimpang, padahal mereka tak mencubit siapapun. Agama yang tak sesuai otoritas kebenaran tak dibiarkan hidup, dianggap sesat, padahal mereka pun tak mencubit yang lain. Ideologi tertentu tak dapat porsi eksistensi. Seharusnya semua hidup dalam harmoni, berdampingan, tanpa harus saling mencubit.

Rudi: Tapi bukankah harus tetap ada nilai universal? Semisal manusia tak boleh menghilangkan nyawa orang lain

Badu: Pada kasus tertentu bisa saja hal itu dibenarkan. Semisal kasus euthanasia yang diperbolehkan di beberapa negara. Itu menunjukan kebenaran tak mutak, tak bisa diterima begitu saja, harus ada rasionalitas yang mendampinginya. Kasus euthanasia diperbolehkan di negara lain karena untuk kepentingan si pasien agar tak tersisa oleh sakit yang diderita. Contoh lain adalah hukuman mati yang dilaksanakan di berbagai negara, karena terdakwa dianggap sudah sangat berat kesalahannya merugikan orang lain.

Rudi: Jadi kebenaran tak mutlak?

Badu: Begitulah. Karena kebenaran seharusnya ditujukan untuk kepentingan manusia bukan untuk memenjarakan manusia

Rudi terdiam, sambil kemudian meminum tegukan terakhir dari cangkirnya. Malam kian ralut. Mata pun mulai memerah. “Kita lanjutkan besok saja, aku sudah ngantuk”, kata Rudi seraya masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Badu yang malam itu menginap di rumahnya.

Selera Makan

Rasa sakit menggelayut di dinding lambung

Oleh: Tito Erland S

Rasa sakit menggelayut di dinding lambung. Seperti ada ratusan silet didalamnya yang kemudian diterbangkan oleh tornado kecil sehingga memberikan efek sayatan yang memilukan. Saat itu hari sudah hampir habis, tinggal beberapa pukul lagi sudah berganti. Bukan tak sadar dengan rasa perih itu, namun karena bingung ingin memasukan apa untuk meredakannya.

Saat itu sudah hampir pukul sepuluh malam, namun saya belum pula makan, padahal saya menderita maag yang seharusnya tak boleh telat makan. Bukan tak ingin, saya hanya bingung ingin memakan apa. Saya sedang bosan menyantap hidangan yang tersaji di sekitar kosan. Saya malah memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku sambil memikirkan akan memakan apa. Pukul sepuluh lewat, saya akhirnya keluar kosan, membeli telur penyet di warung lesehan.

Jika direnungkan hal demikian terjadi karena saya sedang tak berselera untuk makan makanan di sekitar kosan, saya lebih berselera untuk makan makanan yang berbeda dari biasanya. Intinya soal selera.

Selera, khususnya soal makanan, bukan begitu saja turun dari langit. Ada proses sosial dalam pembentukannya. Entah itu kultural maupun struktural.

Proses pembentukan selera manusia sehingga ia lebih menyukai makanan tertentu salah satunya karena faktor lingkungan. Sedari kecil manusia diberi makanan yang serupa sehingga menjadi terbiasa dengan hal itu. Contoh saja seorang manusia yang sedari kecil sudah terbiasa memakan nasi tak kan merasa kenyang jika hanya memakan roti. Begitu pula sebaliknya.

Begitu beranjak dewasa, seorang manusia semakin beragam seleranya, ada yang suka makanan tertentu ada yang tidak. Hal demikian merupakan proses kesadaran individu dalam mencoba makanan yang baru dijumpainya. Saat makanan yang baru itu sesuai dengan harapannya, ia akan mulai menyukainya dan mungkin akan membiasakan untuk memakannya.

Namun rupanya tak melulu lingkungan keluarga dan individu yang membentuk selera manusia, peran struktural juga bermain di dalamnya. Media televisi mempunyai peranan penting di dalamnya. Hegemoni tercipta lewat iklan yang menggiring manusia berpikir bahwa makanan yang enak adalah yang seperti di iklankan. Akhirnya seorang manusia pun dapat memakan makanan yang ada seperti di iklan dan termakan oleh iklan. Proses yang demikian juga pada akhirnya membentuk semacam strata sosial, bahwa pada akhirnya hanya sebagian saja yang “mampu” membeli makanan mewah. Seorang di pedalaman mungkin saja tak pernah berpikir bahwa ia mampu membeli spagheti di restoran mewah. Persoalan selera makan pun pada akhirnya menjadi pembeda sosial, antara yang mampu dan yang tak mampu.

Persoalan selera juga terkait dengan persediaan. Jika di suatu negara persediaan pangan yang melimpah adalah beras maka rakyat pun menjadi semakin terbiasa memakan nasi.

Selera juga tak mudah diubah. Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa seorang yang biasa makan nasi maka ia lebih senang makan nasi ketimbang makanan pokok lainnya. Persoalan yang demikian membawa ekses pada wilayah politik, maka kemudian lahirlah istilah politik perberasan. Negara akan bingung jika stok beras menipis, sementara rakyat biasa makan nasi. Kekurangan stok beras akan memicu gejolak sosial terutama dari kalangan pekerja, karena jika beras mahal (karena kelangkaan) maka pekerja sangat mungkin untuk menuntut kenaikan gaji agar mampu membeli beras. Hal yang demikian bisa memicu demontrasi di kalangan pekerja. Karenanya pengusaha butuh beras murah disebabkan wataknya yang tak ingin mengurangi keuntungan sehingga kemudian munculah kebijakan impor beras, dan petani lokal lah yang kemudian tidak diuntungkan.

Persoalan “ketergantungan” pada makanan tertentu berusaha diatasi oleh negara kita, salah satunya dengan iklan yang muncul belakangan ini mengenai ada makanan pokok selain nasi, yaitu singkong, ubi, dan jagung. Di iklan tersebut juga disebutkan bahwa memakan makanan tersebut tidaklah menurunkan gengsi. Berhasilkah meyakinkan? Mungkin bagi sebagian kecil, sebagiannya tidak, saya sendiri pun masih lebih suka memilih makan nasi.

Soal selera memang pada akhirnya terkait dengan banyak hal dan sulit diubah. Jika ingin diubah tentu letaknya pada tekad individu. Jika mau, cobalah berpikir “saya lebih suka makan ubi dibanding nasi”, berulang-ulang. Mungkin berhasil membuat anda beralih ke ubi dan mulai meninggalkan nasi.

note: tulisan ini pernah dimuat di http://we-press.com/

Intrik

Intrik

Oleh: Tito Erland S

Ibarat Scar City, itulah kekuasaan. Menjadi sesuatu yang langka ketika tak dapat diraih semua. Untuk itu perlu perjuangan. Jelas, peraihnya hanya sedikit. Dengan demikian ada semacam kesepakatan sosial di dalamnya, bahwa harus ada yang terkomando, terkoordinasi, atau bahkan tersubordinasi. Kata lainnya ada penguasa dan ada yang dikuasai, ada “ si menang” dan ada “si kalah”.

Tampak menarik sekaligus dapat memuakan ketika ada drama perebutan, pembesaran dan pertahanan. Banyak motif bermunculan dalam rangka ketiganya, motif materi, kepentingan khalayak, atau sekedar gila sensasi karena kekuasaan bagi sebagian orang begitu menyenangkan.

Dalam sesi pertama saja –perebutan- sudah banyak hal yang tak sedap dipandang dan syahdu didengar. Sebut saja contohnya intrik politik dan kampanye hitam. Tak melulu yang demikian terjadi di level makro, pada tingkatan mikro pun kadang terwujud.

Hal demikian terjadi di kampus tetangga saya. Dari cerita teman, saya mendengar, di sana terjadi intrik dan kampanye hitam. Hal demikian terjadi dalam arena perebutan kekuasaan untuk menjadi pemimpin mahasiswa. Intrik terjadi layaknya perang dingin. Teknologi muktahir digunakan untuk melakukan semacam penekanan psikologis pada lawan. Sungguh “canggih”, pada tingkatan kampus sudah seperti itu. Kampanye hitam berbeda lagi modusnya, lewat selebaran yang menjelekan lawan dengan menghembuskan isu bahwa sang lawan mempunyai pemikiran yang nyeleneh.

Intrik dalam politik terjadi karena salah satu kaitannya dengan paradigma sang pelaku. Sang pengintrik dalam dunia perpolitikan bisa jadi mempunyai paradigma bahwa politik dan moralitas adalah dua hal yang terpisah, dengan demikian tak masalah etis atau tidak, yang penting adalah kemenangan. Padahal dalam budaya politik yang sehat, seharusnya cara tersebut tak layak, karena bagaimanapun juga demokrasi mempunyai aturan main dan politik mempunyai etika. Sungguh disayangkan, karena kultur politik yang diharapkan terbangun lebih baik, dicederai dengan hal seperti itu.

Intrik dalam politik sepertinya sudah biasa terjadi, meskipun tak dapat dibilang “benar”, apalagi ditingkatan kampus, hal yang demikian sepertinya menjadi sesuatu yang tak perlu.

Pun demikian dengan kampanye hitam. Tak pantas dipentaskan di arena politik. Tek elok jika kekuasaan dimenangkan dengan jalan menghembuskan isu negatif (apalagi yang berbau SARA dan ideologi) pada pihak lawan.

Pendidikan politik lebih tepat diketengahkan. Pendidikan politik dalam konteks ini yang saya maksudkan adalah memberikan kesadaran pada khalayak tentang fakta dari kepribadian dan track record calon pemimpin. Jadi bukan isu tak bertanggung jawab yang ditebarkan, tapi fakta kebobrokan calon pemimpin dari hasil “penelanjangan”. Hal demikian menjadi tepat karena tentu khalayak tak ingin punya pemimpin yang tak pantas.

Pada akhirnya saya melihat penegasan realitas, bahwa politik seringkali diwarnai dengan penyikutan. Sungguh disayangkan pada tingkatan mahasiswa saja sudah seperti itu, apalagi nanti saat sudah menjadi pemimpin di masyarakat?